Denganmu, aku terlupa seperti apa wujud kosong dalam kalbu.
3.2.09
7.1.09
Aku Hanya Ingin Kamu Bahagia
Bagilah resahmu denganku.
Tolong, jangan kau nikmati sendiri.
Sungguh, aku tidak pernah bisa tenang bila melihatmu gelisah.
Hisap saja manis di bibirku.
Lepaskan pahit di hatimu.
Biarkan saja terbang bersama angin.
Jangan biarkan sedih, kecewa dan khawatir menempati hatimu.
Sesaki saja dengan bahagia, bahagia dan bahagia.
29.12.08
Senja dan Kerinduan
Semburat merah jingga mewarnai langit senja. Sang mentari perlahan-lahan tenggelam di ufuk barat. Belaian sang bayu mendorong kapal nelayan berlabuh. Deburan ombak menjadi senandung indah bagi para nelayan itu. Indahnya langit merah, tak pernah seindah senja yang lembut dan menyala. Mempersembahkan semburat panorama yang tak terkatakan dengan semua kata di dunia. Saat yang tepat untuk melarikan diri sejenak dari keramaian kota. Kemana kaki ini melangkah. Kabur akan penjelmaan arah. Semburat merah, mengintip lewat wajah. Lelah terkalah resah.
Indah dan romantis. Seperti saat aku duduk di pantai Kuta. Atau hanya sekedar duduk di halaman kampusku dulu.
Sang mega ikut menghiasi, membias keemasan mengiringi mentari yang tenggelam. Lembut merajut garis-garis wajahmu. Tercipta satu harmoni menyentuh. Desau rindu prana di hela suasana mengurai kesetiaan. Kubuat prasasti menjemput impian dari tulus hati. Biduk telah ditambatkan di pantaimu bawa sebentuk hati. Menikah denganmu bertahtakan kesetiaan bermahkota cinta. Ah, bayang-bayang kerinduan itu!
Garis wajahmu, dengan untaian senyum yang merekah. Senyuman termanis di antara benderangnya semesta. Ingin ku melumat rasa. Tentang arti senyum indahmu diselakar ini. Pernah kau bilang padaku, 'aku tidak bisa tersenyum'. Apa sulitnya membuatmu tersenyum? Aku akan membuatmu tersenyum untukku setiap hari. Aku ingin membuatmu tersenyum saat dirimu bersedih. Bukankah aku bisa membuatmu tertawa? Bahkan membuatmu jatuh cinta...
Angin yang berdesir tiada terasa, melantunkan bait-bait kesyahduan, melenggak-lenggok bagaikan penari, terus merambah diantara dedaunan sore. Di ujung senja ingin kusampaikan, kerinduan dan setangkai mawar yang masih tersimpan darimu.
Senja selalu membuatku terpesona. LukisanNya yang Maha Sempurna. Dan.., selalu mengingatkanku pada kematian. Ya, aku seperti melihat malaikat maut sedang menungguku di ujung langit sana. Apakah dia sedang menjemputku? Apakah telah tiba waktuku?
Entah kenapa aku merasa waktuku semakin dekat. Tak ada yang mengharapkan kematian. Mungkin ini hanya perasaanku saja.
Semoga Allah masih memberiku kesempatan, aku masih punya keinginan. Ijinkan aku, melihat senyummu, menyentuh wajahmu, mencium tanganmu... Sampai renta..
Bayanganmu selalu menghadirkan kepedihan pada setiap jejak-jejak langkah menapaki jalan-jalan kelabu. Dimana ilustrasi itu selalu menghadirkan selaput cinta yang telah kau pahat sendiri. Sunyi merayap mendahului bahasa jiwa tak terjewantahkan. Aibpun tidak bisa menjalar dimana desiran angin mengabarkan berita hati dan perasaan menyatu dengan aliran darah kaku tak terangkai kepada muara pengaduan.
Aku hanya ingin memelukmu dari senja hingga shubuh tiba. Maka kerinduan ini akan lunas terbayarkan.
gambar dari sini
15.11.08
Aku Sayang Kamu
"Aku sayang kamu." katanya. Aku tersenyum. "Bilang 'aku sayang kamu juga', dong...."
"Aku... sayang... kamu... juga..."
"Nah gitu," Senyumnya mengembang. "Hati-hati di jalan, okay? See ya!"
Tanpa diduga, tiba-tiba dia mendorong tubuhnya maju dan mengecup pipiku pelan.
Sebuah rasa di dada muncul. Yang jelas bukan gembira. Andai saja kamu tahu kalau aku mau mengatakan 'aku sayang kamu' sebanyak dan sesering kamu mau.
Aku terdiam.
***
Sebuah telepon masuk.
"Iya, Ma. Bentar lagi nyampe rumah kok!"
"Cepetan, Sayang. Om Rangga udah dateng, nih. Mama mau ngenalin kamu sama calon istri kamu. Anaknya cantik, lho. Pasti kamu dan dia bisa jadi pasangan serasi."
"Iya Ma."
“Memangnya kamu punya tipe khusus?” Mama menyelidik.
"Terserah Mama aja. Daahhh..."
Klik!
Entah darimana, bulir-bulir hangat itu muncul, dan selanjutnya, aku kangen kamu lagi.
17.10.08
Nyata atau Mimpi
Atau terlalu masa bodoh untuk mencoba menyadari.
Tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi.
Aku nyata, kamu nyata, sementara kita cuma mimpi.
Itu yang benar, kan?
7.9.08
No Title
Aku mempunyai kereta asap, indah, kuhiasi sendiri dengan cat warna warni, dengan lampion yang membuatku nyaman. Kereta itu siap sauh, dengan banyak dewa di dalamnya. Dewa segala dewa yang mengatur arah mata angin, mengatur derasnya hujan, dan mengarahkan impianku. Aku bermimpi untuk selalu membuatnya tersenyum.
Tiba-tiba, kereta kuda yang dulu pernah kunaiki datang dengan wajah lusuhnya. Kotor. Hatiku perih!! Aku membentuk kereta asapku dengan indah, ceria, ku kumandangkan dengan TOA agar semua orang dapat melihat kereta asapku, aku bangga. Sesaat kemudian aku melihat kereta kuda yang dulu kubanggakan, yang kuikhlaskan kepergiannya, yang merontokkan semua asa. Dengan mengendap aku berjinjit ke arahnya, menempelkan handuk basah ke tiap pori tubuhnya, membiarkan ia mendengus dengan hebat dan tertidur. Dan aku menangis dalam diam.
Kini, haruskah aku rontokkan lagi besi-besi yang menopang kereta asapku, ku kelupas lagi cat warna warni yang kulukis dengan ceria dulu, dan haruskah aku meninggalkan dewaku, yang demi kebahagiaannya aku dapat menggendongnya seumur hidupku, melihat ia menatap nanar kepadaku, sama seperti ketika sang Zeus meninggalkannya?
Aku diciptakan tidak dengan pilihan, namun pilihan yang memilihku.
gambar dari sini
Langganan:
Postingan (Atom)

