Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

11.5.14

Tujuh Keduapuluh

Rena,

Pukul 15.00 WIB. "Apa kabar kamu? Hari ini tak ada kabar sama sekali. Kamu baik-baik saja kan?" Sebuah BBM terkirim.

Sembilan jam kemudian. "7 keduapuluh, aku sayang kamu :)" Aku mengirim satu BBM lagi.

00:21:26 Sebuah BBM masuk. "Iya sayangku, aku baik-baik aja. Ini aku baru isi pulsa. I love you too, perempuan kesayanganku. Makasih ya kamu masih mau sayang sama aku."

Aku tersenyum bahagia. Aku membaca recent update BBM. Status barunya "Memang benar bahwa kau adalah yang kesekian, tapi setelah ini tak akan kulanjutkan lagi pencarian." Dan senyum ini pun makin merekah. Aku tidur nyenyak berselimut mimpi indah.


Arman,

01:32:37 "Terima kasih, Sayang. Kata-kata kamu manis banget deh." Dian bergelayut di lenganku manja.

"Kamu sabar ya, sebentar lagi aku pasti akan putusin dia. Tinggal nyari waktu yang tepat aja." Aku meyakinkan Dian sambil mencari cara untuk memutuskan Rena.

"Kamu janji ya?"

Aku mengangguk dan memeluknya, yang seharian ini telah bersamaku.


Apakah 'kamu' yang kamu maksud dalam kata-kata indahmu adalah saya? Jika bukan, maka ini salah saya yang berharap demikian.
@DedoDpassdpe


gambar dari sini

4.5.14

Pulang

Menahun ku tunggu kata-kata yang merangkul semua
Dan kini ku harap ku dimengerti walau sekali saja pelukku


Lagu Peluk dari Dewi Lestari dan Aqi Alexa mengalun lamat-lamat di cafe yang aku datangi itu. Salah satu lagu kesukaanku. Di luar hujan masih turun dengan deras. Entahlah, semacam sebuah konspirasi sempurna terhadap apa yang sedang aku alami, aku rasakan.

Berkali-kali kulihat jam di pergelangan tanganku. 21.00, lewat dua jam dari waktu yang ditentukan. Cappuccino float di gelasku sudah habis. Akankah dia datang atau mengingkarinya? Aku makin gelisah. Menunggu memang hal yang membosankan. Terlebih saat ini.

"Bisa temui aku besok?" pintaku padanya kemarin.

"Kenapa Sayang?" tanyanya. "Kamu kangen?"

Aku tertawa. "Ada yang ingin aku bicarakan."

"Kamu kok ketawa sih? Ga kangen ya? Mau ngomongin apa? Ngomong aja sekarang."

"Aku pengen ketemu langsung."

"Baiklah aku usahakan. Kamu tau sendiri kan, aku sudah tidak bisa lagi sebebas dulu."

"Iya aku tau."

Mereka bilang sebaiknya aku pulang, mereka bilang sebaiknya aku menyelamatkan hatiku, mereka bilang sebaiknya semua ini dihentikan.

Tiada yang tersembunyi, tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu, rasa sakitku


Sebuah pesan masuk di handphoneku. Aku membaca nama pengirimnya. Ranu.

"Disini hujan deras. Aku lagi minum cokelat hangat sambil ngeliatin hujan dari balik jendela. Kamu dimana sekarang?"

Seorang lelaki memasuki cafe dengan tergesa-gesa, kemeja birunya sedikit basah. Seorang lelaki yang mengisi hariku tiga tahun belakangan ini.

“Maaf, aku terlambat,” katanya dengan wajah menyesal. Aku tersenyum. Entah, dengannya, aku tak pernah bisa marah.

“It’s okay.”

“Kenapa kamu gak pulang saja? Kenapa kamu masih nungguin aku? Ini udah lewat dua jam loh. Selamatkan hatimu. Kita hentikan semua ini,”

“Pulang? Kemana? Kamu rumahku, bagaimana bisa pulang jika kamu menghilang? Menyelamatkan hati? Hati yang mana? Kamu membawa pergi hatiku, hati yang dengan sepenuhnya telah aku titipkan padamu dengan segala rasa percaya. Bagaimana bisa, jika hatiku ada di kamu? Dihentikan? Iya, bahkan sebelum kamu memintaku berhenti, cerita ini telah terhenti. Sayangnya, rasa ini tidak ikut berhenti. Seharusnya cerita dan apa yang aku rasakan berhenti secara bersamaan. Seharusnya. Itukan maksudmu?”

“Cukup Sayang. Cukup. Aku hanya tidak ingin lagi menyakitimu dengan terus seperti ini.” Dia memelukku. Dan air mataku tumpah di dadanya.

Tiada lagi alasan, inilah kejujuran
Pedih adanya namun ini jawabnya


*

Sementara itu di teras sebuah rumah, di kota itu, seorang lelaki gelisah menelpon kekasihnya. Berkali-kali dia berusaha menghubungi namun belum juga ada jawaban.

Akhirnya dia mengirim pesan singkat kepada perempuan yang disayanginya, "Kamu dimana Sayang? Pulanglah."

1.5.14

Tak Mungkin Kembali

Vino menghela napas panjang. Kalau kata orang, melupakan perpisahan yang pahit itu mudah, ternyata salah. Kemarahan dan kebencian bukan berarti selesai, melainkan membutuhkan penyelesaian.

Cika terdiam, beberapa saat. Kepalanya berat. Perutnya bergejolak dan mual. Ia tidak tahu apa yang diinginkannya sekarang. Kecuali, merasa tenang dan berharap bangun dengan kesadaran bahwa semua hanyalah mimpi buruk.

“Aku lupa dulu mau memberikan CD Coldplay ini.” kata Vino.

Cika menjatuhkan tubuh di kursinya. Diletakkannya CD itu di atas meja dengan sedikit kasar. Lelaki itu benar-benar membuat emosinya berada di ambang batas meledak. Untuk apa Vino melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya Vino inginkan darinya? Merayunya? Mengajaknya bernostalgia? Atau sedang membuat lelucon?

Vino cukup bingung melihat wajah Cika sama sekali tidak menunjukkan keramahan. “Maaf kalau CD itu membuat kamu terkejut. Aku hanya ingin meminta maaf. Aku masih menyayangimu.”

“Mulai sekarang, kamu tidak perlu memberikan aku apa pun…,” ujar Cika seraya menahan napas. Seluruh emosinya seakan naik dan berkumpul di ujung lidah. Menatap mata Vino yang terguncang memberikannya sedikit kelegaan. Terkadang seseorang seperti Vino perlu tahu bagaimana rasanya sebuah hantaman keras.

Sesekali Vino sering memikirkan Cika. Sebenarnya, ia yang selalu menghindari memikirkan perempuan itu. Satu atau dua kali, ia pernah ingin menelepon, tapi berubah pikiran. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Cika setelah mereka berpisah.

"…Dan kita tidak mungkin kembali lagi seperti dulu." lanjut Cika. Vino memegang kuat-kuat air mineral gelasnya. Ia hampir meremukkan benda itu. Tentu saja ia bukan orang yang benar-benar bodoh. Ia sadar, sangat mustahil bisa kembali seperti dulu, menghindari keinginannya melihat perempuan itu. Matanya berkhianat. Brengsek!

Vino terdiam, matanya kali ini tidak berpaling. Cika gelisah terus berada di sampingnya. Ada yang berdenyut di tubuhnya mengingat masa lalu mereka. Kehadiran Cika beserta kenangannya dalam situasi yang berbeda ini, memberikan efek emosi naik-turun. Sama seperti perasaan yang tumpang-tindih dengan rasa sakit, kecewa, dan sisa amarahnya.

Ketika Cika mengalihkan pandangan, Vino melirik mengawasinya. Rambut panjangnya menyentuh lembut bahunya dan terlihat mengilat terkena cahaya. Kedua tungkainya di bawah rok selututnya bertumpuan, memperlihatkan sikap duduk tenang. Vino ingat, setiap marah, Cika selalu seperti itu. Diam. Tenang. Tidak ingin menunjukkan gejolak amarahnya. Cika selalu membuat Vino hampir gila jika berhadapan dengan dirinya yang seperti itu.

Vino menelan ludah. Ia semula memang merasa bahagia dan berharap baik-baik saja. Baik untuknya, baik untuk Cika. Namun, nasihat selalu ada benarnya, kehilangan merupakan pelajaran terbaik. Semuanya hanya fatamorgana. Dan, sekarang dirinya tak ada beda dengan musafir mencari mata air di gurun pasir yang panas. Butuh waktu panjang menemukannya atau ikut hilang bersama bayangan semu air di kejauhan.










gambar dari sini

23.4.13

Candid

Ini bukan tentang kekasih.
Ini tentang hatiku yang telah hilang kau curi.
Dalam kerdip delikan matamu kau mengikat tiap hembusan nafasku untuk mengikutimu.
Walau kau jelas tak pernah menoleh.
Klik!
Foto kesekian dari lelaki di depanku yang aku ambil sembunyi-sembunyi. Aku tersenyum memandangi hasil jepretanku. Lelaki itu begitu sempurna. Aku tak bicara banyak, aku hanya mampu tersenyum dan menatap, tanpa berani menyentuh juga mengeluh.
***
Dalam bisumu, kau mengikat tiap nada dalam debaran jantungku untuk memenuhi ruangmu.
Walau jelas kau tak mendengar.
Dalam diammu, kau menemalikan tali di kakiku untuk berlari mengelilingimu.
Walau jelas kau tak melangkah.
Aku menatap lelaki itu. Tatapannya lembut menyentuh, walaupun aku juga ingin lebih dari sekedar saling menatap. Menyentuh mungkin, atau saling mengeluarkan suara, mengucapkan sepatah kata. Apapun! Asal tak hanya saling menggeliatkan bola mata. Aku mencoba melempar pandang ke arah jendela, menatap lalu lalang sepeda motor dan mobil yang berlari-larian hampir beringas. Menerobos lampu merah seenaknya, menyalip sesukanya, membunyikan klakson seinginnya. Aku merasa tak nyaman.
“Gimana Bima? Kemarin jadi ketemu kan? Ganteng kan? Bima asik anaknya, seumuran sama kita, tapi dia udah lulus dan kerja, pinter anaknya” Mayang langsung menyerbu dengan pertanyaan mengenai Bima, lelaki yang selama ini aku perhatikan. Aku gelagapan karena terlalu asik memperhatikan Bima, lelaki itu.
***
“Hai! Lagi ngapain?” Bima duduk di sampingku yang lagi nyepi di perpustakaan. Aku kaget. Kok dia bisa nemuin aku di sini! Padahal aku jarang banget ke perpustakaan. Ini tempat persembunyian paling ampuh!
“Aku? Ng… kamu nanya apa tadi, Bim?”
“Ha ha ha, kamu lucu ,deh,” tawa Bima sambil mengacak-acak rambutku. Reaksiku tersenyum. Sentuhan jemarinya selalu membuat aku suka. Kelihatannya senyumku pun bikin Bima suka.
“Gimana? Proposal aku diterima, enggak?” tanya Bima.
Tuh kan, dia nanya jawabanku. “Proposal? Proposal yang mana? Aku enggak terima apa-apa, kok,” kilahku sok bego.
“Ha ha ha! Kamu memang lucu. Aku punya sesuatu buat kamu.” Bima menyodorkan sebuah bungkusan. Aku membukanya dengan dada berdebar. Sebuah album foto. Dan di dalamnya berisi foto-fotoku dengan berbagai keadaan. Candid.
“Aah Bimaaa… Ini aku. Sejak kapan kamu mengambilnya?”
“Sejak aku jatuh cinta sama kamu.”
“Kamu tau ngga, aku juga punya foto-foto kamu. Candid juga.”
Bima tersenyum. “Aku tahu.”
“Aah… Bima jangan jahat dong sama akuuu… Kamu tahu tapi kamu diam saja.” Aku nggak tau lagi harus ngomong apa.
“Aku sayang kamu.” Sekali lagi Bima mengacak-acak rambutku.
“Aku juga sayang kamu Bima.”
Ini tentang hatiku yang telah hilang kau curi.