maukah kamu menjadi lambaian tanganku? mengucap selamat tinggal pada mereka yang tidak tertulis pada takdirku.
maukah kamu menjadi suaraku? alam membungkamku bila bersamamu.
maukah kamu menjadi spasi dalam kumpulan sel-sel hurufku? biar bermakna aku dalam bait-bait puisi semesta.
maukah kamu menjadi tirai kamarku? menjaga apa yang rahasia dari diriku, menjadi tempat ternyaman untuk hatiku.
maukah kamu menjadi kameraku? mengabadikan semua yang jujur dari hariku. merekam suka duka, tangis tawa. dan kita akan mengenangnya pada sebuah album dengan senyum.
Tampilkan postingan dengan label Air Mata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Mata. Tampilkan semua postingan
11.10.13
30.5.12
23.12.11
Tak Ingin Jatuh Cinta
Kalo boleh, aku tak ingin jatuh cinta. Jatuh itu sakit, boleh dibuat melayang saja karenanya? Rasa-rasanya tidur di awan menyenangkan. Lalu, ketika aku melayang, aku akan terbang. Aku akan melewati hutan awan, dan tak akan lagi berharap pada bintang jatuh. Biar kukunjungi ia sendiri dan kugigiti ribuan bintang hingga kenyang. Aku akan berkata pada bintang “Hayo, kugigit atau mau mendengar dan kabulkan permintaanku?” dan aku tertawa riang, turun perlahan dengan prosotan pelangi. Mampir ke awan untuk tidur.
Kukeluarkan rinduku, kusisipkan pada petir, dan petir merobek awan dan turunlah rinduku menjadi hujan. Merendam kaki langit. Jadi ketika aku jatuh, aku tidak menyentuh tanah. Aku akan tercebur dulu, baru tenggelam. Rasa rasanya, sakitnya lebih manusiawi.
Tanah, bukannya aku benci. Tapi jatuh padamu. Lebamnya sulit menghilang hingga kini. Biarlah aku membiru, dalam genangan hujan rindu yang menenggelamkan rasaku.
__Rahne
11.8.11
air mata
sakit sungguh kedua jendela hati ini,
tapi demi mengalirmu, tak mengapa.
tapi demi mengalirmu, tak mengapa.
karena di sini ada telaga tak berbatas,
tak kan pernah habis, kapanpun ada rasa perih yang sampai lewat kabar.
karena telaga ini tak terselami,
juga tak kan surut ia oleh luka-luka yang pura-pura menganga.
--widyastri
--widyastri
19.7.11
Air Mata #2
Saat hati dan kepala berpesta. Akan ada yang jatuh melesat melewati pipi memberi kabar bumi. Namanya air mata bahagia.
14.5.11
keberanian
keberanian itu punya kadaluarsa (mungkin)
kalau tidak cepat-cepat diwujudkan, dia akan terlanjur menguap bagai air, meliuk di angkasa seperti angin. lalu jejak yang ditinggalkan menjadi lubang yang menganga. begitu saja. tidak perih. apalagi sampai membuat air mata mengalir. tapi penyesalan pasti tidak akan bosan mengejar, bahkan sampai ke alam mimpi. bahkan kadang lamunan di siang bolong.
kalau tidak cepat-cepat diwujudkan, dia akan terlanjur menguap bagai air, meliuk di angkasa seperti angin. lalu jejak yang ditinggalkan menjadi lubang yang menganga. begitu saja. tidak perih. apalagi sampai membuat air mata mengalir. tapi penyesalan pasti tidak akan bosan mengejar, bahkan sampai ke alam mimpi. bahkan kadang lamunan di siang bolong.
11.5.11
19.3.11
menggenang
Ada air mata, menggenang di saku kemejamu
Setelah perjalanan panjang berliku
Yang tak pernah kau sesali
Walau sekali
Pernah kumengerjap manja,
lalu bertanya, “Apakah itu air mata, Ayah?”
Kau tersenyum, dan menjawab,
“Bukan, Sayang. Ini hanya sisa hujan,
yang Tuhan titipkan, semalaman.”
Lama baru kusadari,
kau hanya coba bentangkan pelangi
Di rumah kami
Tahukah engkau, Matahari, bahwa aku mencintaimu?
Setelah perjalanan panjang berliku
Yang tak pernah kau sesali
Walau sekali
Pernah kumengerjap manja,
lalu bertanya, “Apakah itu air mata, Ayah?”
Kau tersenyum, dan menjawab,
“Bukan, Sayang. Ini hanya sisa hujan,
yang Tuhan titipkan, semalaman.”
Lama baru kusadari,
kau hanya coba bentangkan pelangi
Di rumah kami
Tahukah engkau, Matahari, bahwa aku mencintaimu?
15.3.11
Kebahagiaan atau…?
Ini kebahagiaan. Berulang kali aku meyakinkan hatiku bahwa ini adalah sebuah kebahagiaan yang harusnya aku sikapi dengan tersenyum.
Tapi..., kenapa aku menangis? Meneteskan air mata atas kenyataan yang aku terima ini.
Adakah yang salah dengan diriku, dengan perasaanku?
Ternyata, aku masih ingin kamu. Masih. Dan kenyataan ini membuatku harus kehilangan kamu. Harus melepasmu. Harus menutup semua khayal indah bersamamu selamanya. Karena aku tidak mungkin lagi bisa...
Tapi..., kenapa aku menangis? Meneteskan air mata atas kenyataan yang aku terima ini.
Adakah yang salah dengan diriku, dengan perasaanku?
Ternyata, aku masih ingin kamu. Masih. Dan kenyataan ini membuatku harus kehilangan kamu. Harus melepasmu. Harus menutup semua khayal indah bersamamu selamanya. Karena aku tidak mungkin lagi bisa...
17.2.11
Pada Suatu Lara
Butiran bening mengalir dari kedua mata. Deras, tak terkendali. Meluap, meruah dari rasa yang begitu perih.
Apa yang terjadi? Adakah seseorang yang bertanya begitu? Tidak, sama sekali tidak.
Sudah begitu tidak pedulikah mereka padaku? Entah, aku tidak lagi mau tahu.
Tangisku makin sedu sedan. Sepertinya justru menambah luka hati.
Sampai seseorang datang mendekatiku. Anakku.
"Bunda kenapa? Bunda nangis? Kenapa nangis Bunda?" Pertanyaan beruntun yang menghenyakkanku. Aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Malaikat kecilku itu dengan tersedu mengusap tiap lelehan air mataku. Aku begitu terharu.
"Jangan nangis ya Bunda..." Dia memelukku erat. Dadaku kian menyesak. Air mataku mengalir semakin deras.
"Aku ambil tissue ya Bunda..." Aku hanya bisa mengangguk.
Dia datang kembali membawa tissue. Mengusap air mataku. Membersihkan wajahku.
"Sudah ya Bunda, jangan nangis lagi. Bunda kenapa nangis? Bunda takut? Jangan takut ya Bunda, ada aku disini." Dia berkata seperti itu sambil membelai rambutku lembut.
Kata-katamu Sayang, memberikan aku kekuatan yang begitu besar. Ah, malaikat kecilku, harusnya aku yang memberimu kekuatan itu. Tak akan pernah kulupa kisah ini. Ketika malaikat kecil 3 tahunku menenangkan perih hatiku.
Apa yang terjadi? Adakah seseorang yang bertanya begitu? Tidak, sama sekali tidak.
Sudah begitu tidak pedulikah mereka padaku? Entah, aku tidak lagi mau tahu.
Tangisku makin sedu sedan. Sepertinya justru menambah luka hati.
Sampai seseorang datang mendekatiku. Anakku.
"Bunda kenapa? Bunda nangis? Kenapa nangis Bunda?" Pertanyaan beruntun yang menghenyakkanku. Aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Malaikat kecilku itu dengan tersedu mengusap tiap lelehan air mataku. Aku begitu terharu.
"Jangan nangis ya Bunda..." Dia memelukku erat. Dadaku kian menyesak. Air mataku mengalir semakin deras.
"Aku ambil tissue ya Bunda..." Aku hanya bisa mengangguk.
Dia datang kembali membawa tissue. Mengusap air mataku. Membersihkan wajahku.
"Sudah ya Bunda, jangan nangis lagi. Bunda kenapa nangis? Bunda takut? Jangan takut ya Bunda, ada aku disini." Dia berkata seperti itu sambil membelai rambutku lembut.
Kata-katamu Sayang, memberikan aku kekuatan yang begitu besar. Ah, malaikat kecilku, harusnya aku yang memberimu kekuatan itu. Tak akan pernah kulupa kisah ini. Ketika malaikat kecil 3 tahunku menenangkan perih hatiku.
15.8.10
Air Mata Rasulullah
Itulah tangisan orang yang sholeh berharap rahmat Allah bahkan dahsyatnya tangisan itu mampu membuat tubuhnya tersungkur karena takut akan kehilangan rahmat Allah pada dirinya. Begitulah hamba-hamba Allah yang mampu meneteskan air mata penuh harap atas rahmatNya. Air mata itu tidak akan menetes bila hati kita mengeras.
1.5.10
12.10.09
Air Mata
Apakah kau punya cukup air mata?
Tak inginkah kau meminjam air mataku?
Kan kuberikannya untukmu.
Karena aku lelah menangis...
Dan aku menjawab,
Aku tak butuh air mata.
Telah lama air mataku mengering.
Tahukah kamu?
Kini aku bisa menangis tanpa air mata.
Dalam diamku bahkan dalam tawaku...
17.10.08
Nyata atau Mimpi
Atau terlalu masa bodoh untuk mencoba menyadari.
Tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi.
Aku nyata, kamu nyata, sementara kita cuma mimpi.
Itu yang benar, kan?
Langganan:
Postingan (Atom)




