1.5.10

Blacklist


Masih merasa sebagai orang yang diblacklist oleh orang-orang di sekelilingnya. Dan apa yang bisa aku lakukan? Aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya seseorang yang mencintainya.


gambar dari sini

25.4.10

Tanpa Hadirnya

"Kalau…"

Ketakutan yang nyata beribu tahun cahaya. Ia yang tidak pernah ada. Akankah menjadi sesuatu yang benar-benar tidak ada? Ataukah sedikit saja ia mau menunjukkan keberadaannya dengan rengkuhan dan kerjapan kehadiran? Susuri jurang, pergi sejenak untuk kembali pulang.

Mimpi dan angan telah dengan ceroboh kurontokkan lengkap dengan asa dan rasa. Tak kuhiraukan lagi ribuan sesak yang tertelan melihat mimpi dan anganku berjalan beriringan menjauh. Tak kutangkap lagi hujan, bahkan aku berlari dengan petir menghindari. Kepasrahan bukan lagi sebuah cinta namun tercipta dari amarah. Ketidakberdayaan dan hilangnya rona sosok manusia menjadi terlampau kaku berterbangan dengan senyum yang tersungging, mata yang kering, dan retina yang menggenang kemudian banjir.

"Kalau akui tidak berdiri disana, mampukah kamu berdiri sendiri?"

Satu lagi cerita yang harus dicerna oleh jantung. Karena hati dan logika sudah tidak bisa bekerja, tidak mau bekerja, mati bekerja!!

Berkala kulewati gorong-gorong agar udarapun tak mampu mengendus aroma asin dalam tawa. Berkali menziarahi makam yang berisi tulang, menabuk nisan, dan menangis. Hanya disana air mata tidak menjadi dosa. sesak tak menjadi tuak, raungan adalah irama. Tertatih pulang. klimaks jeritan kini hanya sunggingan senyum pemahaman, raga bergerak sesuai rotasi bukan karena diri, tetesan tak mampu terlukis bahkan dalam derasnya hujan. Untukmu aku akan tersenyum. Untukmu aku akan terlihat kokoh dan mampu. Dan untukmu juga aku akan bahagia.

"Baiklah, aku mampu. Dan aku akan bahagia, meski tanpa hadirmu."

Dengan bersimbah lara.

16.4.10

Belum

Aku rindu masa-masa yang belum kita lalui

Aku rindu napas dan hadirku yang belum juga kamu rindukan

Aku rindu bahu yang belum kamu sandari

Aku rindu kerinduan itu sendiri

14.3.10

Takluk Pada Takdir

Kadang timbul pertanyaan dalam benakku. Pernah tidak, kamu berdoa memintaku sama Tuhan, sekali saja? Pernahkah kamu bersungguh-sungguh menginginkanku?

Aku mencintaimu. Ya, benar aku mencintaimu. Jatuh pada dasar terdalam hatimu. Tersesat dalam labirinnya.

Lalu aku lupa bagaimana cara untuk pulang. Aku lupa bagaimana cara untuk bangkit. Aku lupa bagaimana cara untuk membencimu.

Inginku mengacuhkanmu. Atau sekedar berpura-pura untuk itu. Tapi sungguh aku tidak bisa. Aku lupa cara melupakanmu.

Dan kini aku lupa bagaimana cara tersenyum tanpamu. Lupa menghentikan tangis tanpamu. Aku benci tak bisa membencimu.

Hey tuan pemilik hatiku. Ajari aku melakukan semua itu. Seperti kamu yang kini begitu pandai berpura-pura tak mencintaiku.

Aku hanya ingin menanyakan satu hal. Tidakkah itu terasa menyakitkan bagimu, mengacuhkan aku, orang yang kau cintai?

Aku cinta kamu. Kamu cinta aku. Tapi ternyata tak semudah itu menyatu.

Karena kita yang tak pernah berani melawan dunia. Karena kita yang terlalu pengecut takluk pada 'takdir'.

Lalu bila aku bukan takdirmu, masihkah kau memperjuangkanku?

Dulu, kamu pernah mencintaiku. Sekarang pun kamu masih mencintaiku. Tapi kamu beranjak meninggalkanku

Seandainya teriak sekuat tenaga mengatakan "I love you" bisa membuat kamu menjadi milikku selamanya, aku pasti lakukan itu.

Jika aku berhenti mencintaimu, akankah kau sadar bahwa selama ini yang bisa mencintaimu sebesar itu hanyalah aku?

14.2.10

Tulus

Tidak semudah seperti yang dibayangkan. Tidak semudah seperti yang terlihat. Hanya aku dan Tuhan yang tahu apa yang benar-benar aku rasakan. Mungkin orang lain menilai buruk. Silahkan saja. Hanya hati yang tulus yang bisa mengetahui apakah yang dilakukan orang lain padamu itu tulus atau tidak. Terlepas dari rasa kecewa yang kita dapatkan. Aku mengingat yang baik, melupakan yang buruk. Aku mengingat saat bahagia, melupakan saat sedih. Maaf. Maaf. Maaf.

14.1.10

Not Done


“Aku sudah punya pacar…” Dia mengatakan itu dengan perlahan. Dengan nada suara setenang mungkin. Gelas yang kupegang terjatuh persis seperti adegan di film yang butuh banyak koreksi menurutku, Ungu Violet. Wajahku terasa panas, berdebar bergemuruh.

“Oh, baguslah…” jawabku. Tak kutanyakan lagi seperti apa perempuan itu, dimana mereka berkenalan, apa yang menarik darinya, bahkan apa yang pernah mereka lakukan. rasanya hampa, tawar.

Dengan bergegas kubereskan serpihan gelas yang terjatuh. Aku berjalan ke dapur, tempat dimana kami selalu bereksperimen tentang kue yang gagal mengembang dan hangus. Dapur itu mempunyai banyak cerita. Belum lagi upayanya untuk menyenangkanku dengan membuat susu kacang ciptaannya sendiri. Aku lupa apa aku pernah mengatakan kepadanya bahwa susu itu terlalu kental?

Perlahan kakiku mengarahkan otak tanpa kukendali, aku mengambil selembar kain perca yang diletakkan tepat di dahan pohon kenanga di halaman rumahku. Halaman yang dulu kerap ia sirami, sambil aku menunggunya untuk mengepel lantai demi lantai yang basah karena ia menyiram semua pohon itu dengan sembrono. ia ceroboh, dan tidak bisa berubah kurasa.

Ia tetap menungguku di kursi kesukaannya. Dengan tertunduk ia hanya mengamati pecahan kaca yang seakan keluar dari bola matanya. Ia menangis tak bersuara. Kusapu serpihan kaca, sesaat kaca itu buram, tak dapat lagi ku bercermin. Kabut tebal bergelayut di pelupuk jendela hati, butiran air perlahan menetes.

“Kenapa menangis?” Tanyanya pelan tanpa menoleh padaku. Ia selalu tahu kapanku tersedan, tanpa perlu melihat mataku.

“Toh kamu kamu juga punya pacar. Kamu akan menikah juga! Kenapa kamu menangis? Toh aku tidak pernah berhak untuk menangis tiap kali ku harus melihat tanganmu digenggam orang lain. Aku tidak pernah berhak menangis ketika kamu tak mampu membendung perasaanmu dan mengucurkan airmata di dadanya, padahal aku ada disana. Di dalam tiap sedihmu dan tak kau dapati ia, kamu mencariku, mencari tanganku untuk mengelus kepalamu, mencari wajahku untuk menunjukkan raut aneh hanya agar kamu tertawa, dan setelah itu kamu menghilang. Lalu sekarang kenapa kamu menangis? Apa aku tidak boleh bahagia?”

Isakanku makin kencang. Pecahan kaca tak dapat lagi mengalihkan perhatian. Tak dapat kubayangkan ada nama lain di hatinya, ada wajah lain yang akan mengisi pikirannya, ada tangisan lain yang akan membutuhkan peluknya.
Bukan aku tak ingin ia ada. Tapi terlalu takut untuk membuat ia benar-benar kembali ada. Namun tak rela jika ia beranjak pergi. Egois memang. Tapi ketakutan itu selalu muncul. Ketakutan yang membawa sebuah cita-cita, tanpanya aku mati.

“Apa aku selama ini tidak mati?” ujarnya lirih seakan menjawab pertanyaan hati.

“Aku mati, aku bertahan menjadi mummi hanya karena ingin lihat kamu, hanya ingin rasakan hadirmu, namun ketika lilinku tak mampu lagi terangi rumah mungil itu, aku menyerah. Kamu berhak untuk bahagia. Kamu berhak mendapat penerangan dari semua lampu agar setiap sudut dunia tahu kamu berharga.”

Ia meraih tanganku, dan sekali lagi mengecupku perlahan, lembut seperti aku sebuah porselen yang mudah pecah, kecup hangat yang selalu mampu membuatku bergetar.

“Apa kamu bahagia dengannya?” tanyanya dengan hati-hati. Kuanggukan kepala dan ia menangis.

“Aku juga ingin bahagia. Kamu ingin lihat aku bahagia?” Aku ingin lihat ia bahagia, ingin menukar lautan airmata yang dulu kerap ia keluarkan karena aku, sakit, senang, dan sakit. Aku ingin ia bahagia, menukar semua coretan pahit dengan tulisan manis yang mungkin bisa ia dapatkan dari orang lain. Matanya masih memandangku dengan indah, dengan harap dan dengan luka yang selalu kutorehkan di sekujur tubuhnya.

“Ya, aku mau kamu bahagia” Dan kami menangis…