1.7.10

Harus Terpisah

"Hey, let me tell you something." Zhifa berkata pelan di telinga Karang.
"What is it?"
“Aku cinta kamu. Selalu jadi rahasia. Antara aku dan kamu.”
Karang tersenyum, kemudian memeluk Zhifa, perempuan yang sangat dicintainya itu.
“Pernah nggak sih kamu membayangkan kehidupan kita berubah, Ka?” Zhifa menggamit tangannya seraya menatap pegunungan yang terhampar di depan mata mereka. “Atau…, suatu hari kita berpisah?"
"Sst…, jangan pernah katakan itu. Kita akan selalu bersama." Karang meyakinkan Zhifa.
Tidak ada yang istimewa dari seorang Zhifa. Begitu sederhana dengan kerudung yang selalu dikenakannya, kulit cerah bersih, dan mata kecoklatan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi sehingga tampak begitu mungil ketika berdampingan dengannya. Senyumnya menampakkan lekuk bibirnya yang tipis. Pinggangnya ramping. Aroma manis begitu khas dari tubuhnya. Begitu menarik.
***
Selingkuh. Sebenarnya, ia tidak ingin sejauh itu dengan Gea. Hanya ingin hubungan bebas dan menyenangkan. Namun, Karang merasa jatuh cinta, jenis perasaan ini tidak dikenalinya pasti. Gea tidak lebih cantik daripada Zhifa, tetapi seakan-akan mengerti apa yang diinginkannya. Selera humornya cerdas. Pintar dalam bisnis. Mereka berbagi banyak hal dan menemukan kesamaan. Apakah salah mendapatkan apa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya? Apakah salah menginginkan lebih dari apa yang sudah dimiliki?
“Apa katamu?” Zhifa membalikkan tubuhnya, menatap Karang nanar. Mata kecoklatannya memerah dan penuh air. “Kamu bilang aku nggak pernah ngerti kamu? Nggak peduli? Kapan dan di mana letak aku nggak mengerti, nggak peduli?!”
Karang mengusap wajahnya, tidak kalah frustasi. “Aku capek, Zhi!”
Argh! Karang memukul meja. Saat ini, rasanya dia benar-benar ingin mencabik-cabik dirinya sendiri.
Zhifa, seseorang yang selama ini menyelinap dalam angannya. Seseorang yang pernah dipercayainya dan berbagi cerita bersamanya. Tidak peduli berapa tahun bersama, perempuan itu pernah menjadi bagian dalam kehidupannya. Tapi entah bagaimana perasaannya kini.
Zhifa memalingkan wajahnya cepat. Masih bungkam. Angin menerbangkan kerudungnya, menutupi sebagian wajahnya. Semakin menatapnya, Karang merasa sesuatu telah menembus jauh kegetiran hatinya. Ia berusaha mengebalkan diri dari perasaan bersalah yang mengendap pada perempuan itu.
Tanpa bisa ia cegah, mata Zhifa memanas. Gelombang amarah dan frustasi menyerangnya. Zhifa menyadari benar, mereka bukan menjadi bagian satu sama lain. Laki-laki itu bukan miliknya lagi! Air matanya bergulir. Kenapa Karang begitu tega menyakitinya?
Ada yang tiada habis diberitakan musim. Serupa butiran yang jatuh tanpa aba-aba di hening pelupuk mata.
Ada yang tiada habis diberitakan musim. Serupa genggaman yang harus terlepas, walau dua hati masih saling erat terikat.















17.6.10

Malam Ulang Tahunmu

api telah padam di sehembus tiupan

matamu meleleh seperti lilin.

tak kado pun pesta.

listrik yang baru saja menyala.

1.5.10

Blacklist


Masih merasa sebagai orang yang diblacklist oleh orang-orang di sekelilingnya. Dan apa yang bisa aku lakukan? Aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya seseorang yang mencintainya.


gambar dari sini

25.4.10

Tanpa Hadirnya

"Kalau…"

Ketakutan yang nyata beribu tahun cahaya. Ia yang tidak pernah ada. Akankah menjadi sesuatu yang benar-benar tidak ada? Ataukah sedikit saja ia mau menunjukkan keberadaannya dengan rengkuhan dan kerjapan kehadiran? Susuri jurang, pergi sejenak untuk kembali pulang.

Mimpi dan angan telah dengan ceroboh kurontokkan lengkap dengan asa dan rasa. Tak kuhiraukan lagi ribuan sesak yang tertelan melihat mimpi dan anganku berjalan beriringan menjauh. Tak kutangkap lagi hujan, bahkan aku berlari dengan petir menghindari. Kepasrahan bukan lagi sebuah cinta namun tercipta dari amarah. Ketidakberdayaan dan hilangnya rona sosok manusia menjadi terlampau kaku berterbangan dengan senyum yang tersungging, mata yang kering, dan retina yang menggenang kemudian banjir.

"Kalau akui tidak berdiri disana, mampukah kamu berdiri sendiri?"

Satu lagi cerita yang harus dicerna oleh jantung. Karena hati dan logika sudah tidak bisa bekerja, tidak mau bekerja, mati bekerja!!

Berkala kulewati gorong-gorong agar udarapun tak mampu mengendus aroma asin dalam tawa. Berkali menziarahi makam yang berisi tulang, menabuk nisan, dan menangis. Hanya disana air mata tidak menjadi dosa. sesak tak menjadi tuak, raungan adalah irama. Tertatih pulang. klimaks jeritan kini hanya sunggingan senyum pemahaman, raga bergerak sesuai rotasi bukan karena diri, tetesan tak mampu terlukis bahkan dalam derasnya hujan. Untukmu aku akan tersenyum. Untukmu aku akan terlihat kokoh dan mampu. Dan untukmu juga aku akan bahagia.

"Baiklah, aku mampu. Dan aku akan bahagia, meski tanpa hadirmu."

Dengan bersimbah lara.

16.4.10

Belum

Aku rindu masa-masa yang belum kita lalui

Aku rindu napas dan hadirku yang belum juga kamu rindukan

Aku rindu bahu yang belum kamu sandari

Aku rindu kerinduan itu sendiri

14.3.10

Takluk Pada Takdir

Kadang timbul pertanyaan dalam benakku. Pernah tidak, kamu berdoa memintaku sama Tuhan, sekali saja? Pernahkah kamu bersungguh-sungguh menginginkanku?

Aku mencintaimu. Ya, benar aku mencintaimu. Jatuh pada dasar terdalam hatimu. Tersesat dalam labirinnya.

Lalu aku lupa bagaimana cara untuk pulang. Aku lupa bagaimana cara untuk bangkit. Aku lupa bagaimana cara untuk membencimu.

Inginku mengacuhkanmu. Atau sekedar berpura-pura untuk itu. Tapi sungguh aku tidak bisa. Aku lupa cara melupakanmu.

Dan kini aku lupa bagaimana cara tersenyum tanpamu. Lupa menghentikan tangis tanpamu. Aku benci tak bisa membencimu.

Hey tuan pemilik hatiku. Ajari aku melakukan semua itu. Seperti kamu yang kini begitu pandai berpura-pura tak mencintaiku.

Aku hanya ingin menanyakan satu hal. Tidakkah itu terasa menyakitkan bagimu, mengacuhkan aku, orang yang kau cintai?

Aku cinta kamu. Kamu cinta aku. Tapi ternyata tak semudah itu menyatu.

Karena kita yang tak pernah berani melawan dunia. Karena kita yang terlalu pengecut takluk pada 'takdir'.

Lalu bila aku bukan takdirmu, masihkah kau memperjuangkanku?

Dulu, kamu pernah mencintaiku. Sekarang pun kamu masih mencintaiku. Tapi kamu beranjak meninggalkanku

Seandainya teriak sekuat tenaga mengatakan "I love you" bisa membuat kamu menjadi milikku selamanya, aku pasti lakukan itu.

Jika aku berhenti mencintaimu, akankah kau sadar bahwa selama ini yang bisa mencintaimu sebesar itu hanyalah aku?