17.8.10

Biarkan Bidadari Cemburu Kepadaku


Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah, bahwa ia Radhiyallahu ‘Anha bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukan bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”

Ummu Salamah bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam ditanya:’Siapakah wanita yang paling baik?’ Beliau menjawab:

‘(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suami)-nya jika ia melihatnya, mentaati (suami)-nya jika ia memerintahnya dan ia tidak menyelisihi (suami)-nya dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.’” (HR. Ahmad, al Hakim, an Nasa’i dan ath Thobrani dan di Shohihkan oleh al Albani).

Ya Allah, jadikan aku wanita sholehah, isteri yang berbakti. Ya Allah, jadikan aku wanita yang lebih utama dari bidadari surgamu. Ya Allah, jadikanlah hanya aku bidadari untuk suamiku kelak di dunia dan di surgaMu. Biarkan bidadari cemburu kepadaku. Karena hanya denganku suamiku kelak menikah di dunia dan akhirat.

15.8.10

Air Mata Rasulullah


Selesai sholat, Ali menggelengkan kepala, dengan berderai air mata dan penuh kesedihan sambil mengucap, 'Demi Allah, aku telah melihat Rasulullah, apa yang aku lihat hari ini adalah sama halnya yang dilakukan oleh Rasulullah, disetiap sholat malam dimatanya basah dengan linangan air mata dan terdapat bekas-bekas tanda sujud kepada Allah sepanjang malam, Rasulullah senantiasa membaca al-Quran, apabila mengingat Allah sampai condong tubuhnya seperti meliuknya pohon dihembus angin. Rasulullah juga bercucuran air mata sehingga membasahi pakaiannya.
Itulah tangisan orang yang sholeh berharap rahmat Allah bahkan dahsyatnya tangisan itu mampu membuat tubuhnya tersungkur karena takut akan kehilangan rahmat Allah pada dirinya. Begitulah hamba-hamba Allah yang mampu meneteskan air mata penuh harap atas rahmatNya. Air mata itu tidak akan menetes bila hati kita mengeras.

14.8.10

Benarkah...?

Keindahannya semakin kurasa. Bak nafasnya syurga Firdaus. Ada relung ketenangan dan damai di hatinya. Dialah wanita surga yang selalu kurindu.

1.7.10

Harus Terpisah

"Hey, let me tell you something." Zhifa berkata pelan di telinga Karang.
"What is it?"
“Aku cinta kamu. Selalu jadi rahasia. Antara aku dan kamu.”
Karang tersenyum, kemudian memeluk Zhifa, perempuan yang sangat dicintainya itu.
“Pernah nggak sih kamu membayangkan kehidupan kita berubah, Ka?” Zhifa menggamit tangannya seraya menatap pegunungan yang terhampar di depan mata mereka. “Atau…, suatu hari kita berpisah?"
"Sst…, jangan pernah katakan itu. Kita akan selalu bersama." Karang meyakinkan Zhifa.
Tidak ada yang istimewa dari seorang Zhifa. Begitu sederhana dengan kerudung yang selalu dikenakannya, kulit cerah bersih, dan mata kecoklatan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi sehingga tampak begitu mungil ketika berdampingan dengannya. Senyumnya menampakkan lekuk bibirnya yang tipis. Pinggangnya ramping. Aroma manis begitu khas dari tubuhnya. Begitu menarik.
***
Selingkuh. Sebenarnya, ia tidak ingin sejauh itu dengan Gea. Hanya ingin hubungan bebas dan menyenangkan. Namun, Karang merasa jatuh cinta, jenis perasaan ini tidak dikenalinya pasti. Gea tidak lebih cantik daripada Zhifa, tetapi seakan-akan mengerti apa yang diinginkannya. Selera humornya cerdas. Pintar dalam bisnis. Mereka berbagi banyak hal dan menemukan kesamaan. Apakah salah mendapatkan apa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya? Apakah salah menginginkan lebih dari apa yang sudah dimiliki?
“Apa katamu?” Zhifa membalikkan tubuhnya, menatap Karang nanar. Mata kecoklatannya memerah dan penuh air. “Kamu bilang aku nggak pernah ngerti kamu? Nggak peduli? Kapan dan di mana letak aku nggak mengerti, nggak peduli?!”
Karang mengusap wajahnya, tidak kalah frustasi. “Aku capek, Zhi!”
Argh! Karang memukul meja. Saat ini, rasanya dia benar-benar ingin mencabik-cabik dirinya sendiri.
Zhifa, seseorang yang selama ini menyelinap dalam angannya. Seseorang yang pernah dipercayainya dan berbagi cerita bersamanya. Tidak peduli berapa tahun bersama, perempuan itu pernah menjadi bagian dalam kehidupannya. Tapi entah bagaimana perasaannya kini.
Zhifa memalingkan wajahnya cepat. Masih bungkam. Angin menerbangkan kerudungnya, menutupi sebagian wajahnya. Semakin menatapnya, Karang merasa sesuatu telah menembus jauh kegetiran hatinya. Ia berusaha mengebalkan diri dari perasaan bersalah yang mengendap pada perempuan itu.
Tanpa bisa ia cegah, mata Zhifa memanas. Gelombang amarah dan frustasi menyerangnya. Zhifa menyadari benar, mereka bukan menjadi bagian satu sama lain. Laki-laki itu bukan miliknya lagi! Air matanya bergulir. Kenapa Karang begitu tega menyakitinya?
Ada yang tiada habis diberitakan musim. Serupa butiran yang jatuh tanpa aba-aba di hening pelupuk mata.
Ada yang tiada habis diberitakan musim. Serupa genggaman yang harus terlepas, walau dua hati masih saling erat terikat.















17.6.10

Malam Ulang Tahunmu

api telah padam di sehembus tiupan

matamu meleleh seperti lilin.

tak kado pun pesta.

listrik yang baru saja menyala.

1.5.10

Blacklist


Masih merasa sebagai orang yang diblacklist oleh orang-orang di sekelilingnya. Dan apa yang bisa aku lakukan? Aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya seseorang yang mencintainya.


gambar dari sini