17.6.06
4.6.06
Harapan Itu Menyakitkan
Aku tidak tahu lagi apa itu harapan. Aku tahu harapan itu indah. Tapi sudah lama aku berhenti berharap. Mungkin lebih baik memulai sesuatu yang baru tanpa harapan. Biarkan semua berjalan sendiri. Let it flow. Selama niat kita baik, semoga semua berjalan dengan baik. Eh, apakah aku baru saja menyebutkan sebuah harapan? Haha... Entahlah. Yang pasti aku tidak mau terlalu sakit ketika harapan yang begitu indah menjadi hancur terberai. Kita ikuti saja skenario Tuhan.
Tahukah kamu, aku terharu membaca puisimu itu. Ataukah mungkin aku terlalu larut dalam perasaan. Tiba-tiba kurasakan mataku hangat.
Tolong, jangan menjanjikanku bahagia. Kita memang belum dipertemukan oleh semesta, namun nanti pada waktunya, kita akan berkata dalam rasa. Membuat semua klise yang ada. Atau kau ingin membuatku mati rasa?
Tahukah kamu, aku terharu membaca puisimu itu. Ataukah mungkin aku terlalu larut dalam perasaan. Tiba-tiba kurasakan mataku hangat.
Tolong, jangan menjanjikanku bahagia. Kita memang belum dipertemukan oleh semesta, namun nanti pada waktunya, kita akan berkata dalam rasa. Membuat semua klise yang ada. Atau kau ingin membuatku mati rasa?
22.5.06
Boleh Kan?
Boleh kan aku hanya percaya pada apa yang aku lihat?
Boleh kan aku percaya bahwa omonganmu hanya bualan belaka?
Panggil aku berprasangka buruk, terlalu rumit atau apa pun.
Aku hanya melindungi diri dari terluka. Dari apa yang aku rasakan saat ini.
Ah, ternyata selama ini aku masih tidak cukup kuat melindungi diriku sendiri.
Ternyata dinding tebal yang aku bangun belum cukup tinggi untuk melindungi hatiku.
Ternyata aku masih saja percaya pada bualan, yang sangat kontras dengan apa yang aku lihat.
Ya, aku sedang kecewa, sedang sedih.
Boleh kan?
Semoga ini yang terakhir.
Semoga setelah ini aku mati rasa.
Panggil aku berprasangka buruk, terlalu rumit atau apa pun.
Aku hanya melindungi diri dari terluka. Dari apa yang aku rasakan saat ini.
Ah, ternyata selama ini aku masih tidak cukup kuat melindungi diriku sendiri.
Ternyata dinding tebal yang aku bangun belum cukup tinggi untuk melindungi hatiku.
Ternyata aku masih saja percaya pada bualan, yang sangat kontras dengan apa yang aku lihat.
Ya, aku sedang kecewa, sedang sedih.
Boleh kan?
Semoga ini yang terakhir.
Semoga setelah ini aku mati rasa.
1.5.06
Terlambat Sayang
Sesaat kau menepis pertanda dalam malam bertasbih, disanalah kaki-kaki berlari mengikuti suara hati yang mungkin kadang melengking kadang pula berbisik tak terusik.
Selepasnya kau yakini kebenaran yang ada di dalam nalurimu. Ciptakan amarah yang bersirobok dengan gurauan tajam dari hati yang selalu tersakiti, membenarkan kebenaran yang kau ciptakan sendiri lalu mengamuklah kau kepada nuansa. Saat itu cinta musiman menepi berlalu seiring bergantinya cerita baru memutuskan untuk melangkah mundur.
Selanjutnya kau ambil alat komunikasi yang membuatmu mampu berbicara lebih cepat dari angin namun tanpa suara, saat itulah kecupan akhir diluncurkan keduanya. Kecupan yang meminta untuk tak usai, namun tak jua mampu melabuh.
Kemudian pesan singkat itu terkirim: “Aku tahu kau berniat buruk. Jangan ganggu suamiku!” ujarmu dalam tekanan emosi dan siluet masa lalu .
Sebuah pesan singkat membalas “Kamu tenang saja, memang sudah bukan musimnya. Nalurimu terlambat beberapa depa,” jawabku tertawa.
gambar diambil dari sini
21.4.06
Rinduku di Danau
Gelap malam dengan lentera, berbias jingga hadirkan luka rinduku padanya.
Sayup sampai kecipak air terpaan dayung di danau tenang tak berujung
Peluhku di pelipis kiri, hanya titik tanda tekad hati untuk terus mengayuh perahu asa menuju seberang sana.
Seberang sana dimana segala hasrat, cita dan cinta kupercayakan pada malaikat hati, tetaplah hanya untukku
Sayup sampai kecipak air terpaan dayung di danau tenang tak berujung
Peluhku di pelipis kiri, hanya titik tanda tekad hati untuk terus mengayuh perahu asa menuju seberang sana.
Seberang sana dimana segala hasrat, cita dan cinta kupercayakan pada malaikat hati, tetaplah hanya untukku
1.4.06
Jejak Malaikat Surga

Hari ini, kulihat jalan berliku menuju surga
Langkahku pasti tinggalkan jejak luka berdarah
Culik aku, teriakku pada malaikat dengan wajah merona
Jiwaku melayang menatapnya tersenyum dan pergi
Aku mematung, kakiku membatu
Langkah-langkah surga semakin menjauh
Hati meranggas, ratapi air mata luruh
Kutunggu kau di surga katanya
Dan udara kembali bertuba
Aku bangkit, mengejarmu
Langganan:
Postingan (Atom)