24.1.11

Ceritakan Padaku


untuk setiap malam dimana aku tak bisa pejamkan mata

untuk setiap mimpi yang tak pernah aku tahu artinya

dan untuk setiap harapan yang tertanam kuat di dalam asa

apakah kau bisa ceritakan padaku arti perasaanku ini?


untuk setiap ta’lim yang menyejukkan jiwa yang kotor ini

untuk setiap tausiyah yang tiada henti menggetarkan hati

dan untuk setiap ayat dalam Qur’an yang menakjubkan ini

apakah kau bisa ceritakan padaku arti kegelisahanku ini?


untuk setiap kilometer perjalanan panjangku

untuk setiap masalah yang selalu datang menghampiriku

dan untuk setiap waktu yang selalu berharga buatku


apakah kau bisa ceritakan padaku arti sikapku ini?


untuk setiap alunan lagu yang membelai telingaku

untuk setiap lantunan lirik yang menyejukkan dan menyerap emosiku

dan untuk setiap inspirasi yang merasuk ke dalam otakku

apakah kau bisa ceritakan padaku arti keluh-kesahku ini?


karena aku tak bisa menjawabnya sendiri

karena begitu banyak pertanyaan yang ingin aku ungkapkan padamu

karena aku masih ingin mengejar pelangi itu

karena di sanalah aku letakkan semua asa dan mimpiku

karena pelangi itu masih begitu jauh dalam jangkauanku

karena aku masih bisa berlari

karena aku masih bisa bernafas

karena jantungku masih berdegup mengalirkan darah beserta oksigen

karena…

Allah masih mengijinkanku untuk hidup

aku, memang menunggumu

Aku, memang menunggumu.
Untuk sebuah Mengapa yang tak pernah butuh Karena.
Untuk seluruh yang mengutuh di dalam genggaman tanganmu.

Hey Kamu

Hey kamu.

Ya, kamu.

Kamu bersalah.

Karena membuatku gelisah siang dan malam.

Sekarang,

maukah engkau bertanggung jawab?

Dia

Dia adalah rindu yang kukulum terlalu lama, hingga menyisakan rasa nyeri. Seperti permen karet yang mula-mula manis, lalu akhirnya berganti menjadi tawar. Sedikit pahit, malah.
Dia adalah melankoli sentimentil, yang membuat malam yang merayap terasa nelangsa, semata karena rasa sepi terasa begitu menggerogoti. Dan fajar yang menyingsing mengundang senyum, terutama ketika aku memikirkan dirinya yang pasti sedang memikirkan diriku. Mungkinkah dua hati berpagut dalam alam relativitas yang tak menjejak nyata? 
Dia adalah rangkaian kata-kata yang tak teraksarakan. Tetapi sanggup membuat jemariku menari di atas keyboard komputer, atau menggerakan pena di atas coretan kertas. Untuk kemudian memaksaku menekan tuts backspace lama-lama dan menggumpalkan kertas itu ke dalam tong sampah.
Apakah aku segalanya, baginya? Aku tidak tahu. Aku hanya ingin dia hidup bahagia, walaupun tanpa diriku. Dan seperti yang dia katakan, dia ingin aku bisa hidup bahagia, walaupun tanpa dirinya.

19.1.11

Pernah mendengar tentang cinta yang kamu tidak tahu dari mana datangnya? Yang begitu dalam sampai-sampai kamu tak tahu cara mengungkapkannya? Yang membuatmu menangis dan tertawa, merasa hangat dan kosong pada saat yang sama?

13.1.11

Wahai Sahabat

Aku teringat akan wajahmu

yang t'lah tercantik

seperti bulanku


Dalam resahku namamu kasih

selalu ku sebut di dalam tidurku


Rindu ini akan ku simpan

dan kan ku taburi bunga

Biar diam-diam diriku mencintai kamu. . .


Wahai sahabat dengar aku selalu

akan kenangan di masa kita bersama

Saat ku mengenal dirimu dulu

Kaulah yang terbaik sahabat. . .


Dan bila aku terus sendiri

kan ku arungi hidup tanpa kamu

Kan ku bersabar sampai kau ta'u hatiku

dan semoga Tuhan mendengar doaku. . .


Begitu berartinya dirimu bagiku

indah terasa bila bersamamu

Canda tawamu tak kan mungkin ku lupakan

Siksa batinku memanggil namamu. . .



Aku suka sekali lagu ini sejak pertama dengerin. tapi sampe sekarang ga pernah tau siapa yang nyanyi dan siapa yang nyiptain. ada yang tau? ::