Keputus-asaan. Semuanya saling terhubung. Kita berada dalam satu lingkaran rangkaian. Sederhananya tirani rantai makanan. Ekosistem yang tidak hanya merusak alam tapi orang-orang yang telah merusaknya.
Mungkin kita tidak bisa melihatnya. Seperti kemampuan manusia untuk kembali religius seperti pada awal-awal lahirnya agama. Kalau semua urusan hanya urusan trend. Kalau semua hanya urusan hal-hal baru untuk mengganti yang lama.
Atau kita hanya berpura-pura. Berpura-pura buta. Ini yang paling mudah. Berpura-pura tidak melihat. Dibuka mata lebar-lebar untuk mengaburkan kebenaran. Kebenaran yang sebenarnya benar-benar kita pahami sebagai yang benar. “Memang bukan jualan yang laku dijual, kebenaran itu.”
Orang akan lebih mudah mencibirnya sebagai euforia. Fantasi dari hal-hal yang dikategorikan suci. Tapi hebatnya lekang ratusan tahun dihitung dari masa pembuatannya sampai saat ini. Kehebatan di masa-masa ketika logika belum menguasai pola pikir manusia. Ketika ilmu pengetahuan masih dikaburkan dengan mistisme. Ketika Tuhan diceritakan memberi bencana-bencana alam. Dimana saat ini, bencana alam dibaca akibat dari gejolak alam itu sendiri. Riset dan penelitian menjadi berhala baru. Seperti halnya usaha manusia untuk mengkultus usaha baru tidak pernah putus.
Inovasi-inovasi, penemuan-penemuan baru dalam bidang apa pun selalu berdampak, entah apakah orang-orang semakin jalan maju tapi melihat ke belakang. Atau justru berjalan mundur tapi kepalanya menghadap ke depan.
Tapi yang sutup asa semua terselimuti kabut. Buram dan tidak bertujuan.
7.1.13
25.12.12
Suatu Hari Ketika Rindu
Rindu yang paling menyakitkan adalah rindu tetapi kita tidak bisa lagi mendengar suara, ketika kita menekan dua belas nomor ponselnya.
Adalah rindu yang ketika kita mengirimkan beratus-ratus karakter pesan pendek namun tidak ada lagi balasannya.
Adalah rindu yang ketika kita berhadapan dengannya, tidak ada lagi balasan sapa, pun hanya senyum.
Adalah rindu yang hanya bisa disampaikan lewat sebuah monolog bernama doa, lalu berharap Tuhan akan segera menyampaikannya.
Rindu yang tak terbalas.
Rindu yang tak bisa lagi bertemu.
Rindu yang tak bisa lagi bertemu.
Itu rasanya: Sakit.
3.12.12
14.9.12
Pilah Pilih
Berbahagialah ia yang memiliki kotak ingatan yang baik. Ketika bermuram ia tinggal membuka kotak, mengambil berkas yang baik-baik. Seketika berbaikanlah ia dengan dirinya yang sekarang.
14.8.12
Jagalah Ia
Tuhan, aku jatuh cinta. Jaga ia dalam dekapMu. Jaga perasaan dan diri kami berdua yang terpisahkan jarak dan waktu ataupun jika memang nyatanya kami selalu dekat bersatu. Jaga-menjaga hingga terasa semuanya nyata karena takdirMu yang mempersatukan kami dan memisahkan kami.
14.7.12
Bersyukur
Bisa jadi, bagian terindah dalam hidup kita adalah sesuatu yang pernah kita tinggalkan karena merasa ada yang lebih baik dari itu. Padahal, ternyata kita salah. Itulah mengapa apa yang kita miliki saat ini adalah yang paling baik.
Mensyukurinya adalah sikap yang paling benar.
Mensyukurinya adalah sikap yang paling benar.
Langganan:
Postingan (Atom)