1.9.06

Do You Remember?



meniti sepi, aroma embun pagi.

bersama desir angin, hujan, dan daun melambai,

gundah habis menggerogoti dada penuh harapan pasti,

menanti semburat yang tertoreh di lidah dan hati

pandangi langit di ufuk cakrawala,

ingatkan ku akan sebuah nama,

namamu bergetar… mengalun dalam jiwa


gambar dari sini

1.8.06

Baik itu Sederhana

Baik itu sederhana, tapi bagai emas dan berlian, terbaik terkadang menjebak kita ke ruang keangkuhan. Dan emas yang paling mulia di sisi Allah adalah berbuat baik untuk selalu dzikir mengagungkan dan mensucikan NamaNya.

17.6.06

Kupu-kupu Senja


Senyum, di dada senja

Sayap kupu-kupu mengepak bergumul jingga


gambat dari sini

4.6.06

Harapan Itu Menyakitkan

Aku tidak tahu lagi apa itu harapan. Aku tahu harapan itu indah. Tapi sudah lama aku berhenti berharap. Mungkin lebih baik memulai sesuatu yang baru tanpa harapan. Biarkan semua berjalan sendiri. Let it flow. Selama niat kita baik, semoga semua berjalan dengan baik. Eh, apakah aku baru saja menyebutkan sebuah harapan? Haha... Entahlah. Yang pasti aku tidak mau terlalu sakit ketika harapan yang begitu indah menjadi hancur terberai. Kita ikuti saja skenario Tuhan.

Tahukah kamu, aku terharu membaca puisimu itu. Ataukah mungkin aku terlalu larut dalam perasaan. Tiba-tiba kurasakan mataku hangat.

Tolong, jangan menjanjikanku bahagia. Kita memang belum dipertemukan oleh semesta, namun nanti pada waktunya, kita akan berkata dalam rasa. Membuat semua klise yang ada. Atau kau ingin membuatku mati rasa?

22.5.06

Boleh Kan?

Boleh kan aku hanya percaya pada apa yang aku lihat?

Boleh kan aku percaya bahwa omonganmu hanya bualan belaka?

Panggil aku berprasangka buruk, terlalu rumit atau apa pun.

Aku hanya melindungi diri dari terluka. Dari apa yang aku rasakan saat ini.

Ah, ternyata selama ini aku masih tidak cukup kuat melindungi diriku sendiri.

Ternyata dinding tebal yang aku bangun belum cukup tinggi untuk melindungi hatiku.

Ternyata aku masih saja percaya pada bualan, yang sangat kontras dengan apa yang aku lihat.

Ya, aku sedang kecewa, sedang sedih.

Boleh kan?

Semoga ini yang terakhir.

Semoga setelah ini aku mati rasa.

1.5.06

Terlambat Sayang


Jauh sebelum hatimu mengirimkan sinyal temaram itu, pagutan telah berlabuh di kening dan kemudian mendominasi setiap ruas tubuh untuk menghadirkan debaran kencang, menggemuruh.

Sesaat kau menepis pertanda dalam malam bertasbih, disanalah kaki-kaki berlari mengikuti suara hati yang mungkin kadang melengking kadang pula berbisik tak terusik.

Selepasnya kau yakini kebenaran yang ada di dalam nalurimu. Ciptakan amarah yang bersirobok dengan gurauan tajam dari hati yang selalu tersakiti, membenarkan kebenaran yang kau ciptakan sendiri lalu mengamuklah kau kepada nuansa. Saat itu cinta musiman menepi berlalu seiring bergantinya cerita baru memutuskan untuk melangkah mundur.

Selanjutnya kau ambil alat komunikasi yang membuatmu mampu berbicara lebih cepat dari angin namun tanpa suara, saat itulah kecupan akhir diluncurkan keduanya. Kecupan yang meminta untuk tak usai, namun tak jua mampu melabuh.

Kemudian pesan singkat itu terkirim: “Aku tahu kau berniat buruk. Jangan ganggu suamiku!”  ujarmu dalam tekanan emosi dan siluet masa lalu .

Sebuah pesan singkat membalas “Kamu tenang saja, memang sudah bukan musimnya. Nalurimu terlambat beberapa depa,”  jawabku tertawa.


gambar diambil dari sini