1.10.06

Jatuh Cinta Lagi


Aku merasakan sesuatu. Perasaan yang sepertinya pernah ku alami tapi terasa sedikit asing mungkin karena cukup lama tak kurasakan. Sepertinya aku jatuh cinta lagi! Yang ku rasa kala itu aku merindukan sosok laki-laki ini. Kurasakan setiap detik perubahan hatiku. Pelan-pelan ku pahami apakah ini seperti yang kupikir. Tapi ternyata hal seperti ini memang tak perlu untuk dipikirkan terlalu dalam, cukup hanya dengan dirasakan. Akhirnya ku yakini aku memang jatuh cinta lagi! Aku jatuh cinta padanya. Dia mampu menerangi hatiku lagi. Dia adalah cahaya di hatiku. Dia petunjuk arah yang mampu membimbingku menemukan sisi lain diriku. Dia pemberi semangat, kekuatan, dan keberanian padaku untuk lebih tangguh. Dia adalah tempat aku bisa bermanja dan mengeluh. Tertawa dan bercerita. Dia adalah jawaban dari setiap doa yang dulu pernah ku pinta pada-Nya. Hanya saja.. aku telah memiliki lelaki yang lain. Huff...

Aku berharap cahayanya akan menjadi mentari di siang hariku, sinar rembulan di malam hariku. Mercusuar untuk petunjuk arahku. Namun semua tak mungkin, dia hanya cahaya bintang jatuhku. Yang datang hanya sekejap lalu hilang dalam gulita malam. Memberi keindahan akan cahayanya yang kunikmati sesaat, namun akan selalu tinggal dalam keabadian kenangan.

Dia masuk dalam kehidupanku dan hatiku, memberikan pengaruh. Dia adalah potongan puzzle yang melengkapi gambaran perjalanan hidupku. Dia juga yang mampu membuka tirai dari sisi-sisi lain diriku yang mungkin tak kan pernah aku temukan jika berproses sendiri. Dia telah meninggalkan jejak-jejak langkah yang mempengaruhi hidupku.

Seorang yang selalu kurindukan, yang meninggalkan jejak terdalam justru yang tidak bisa aku lihat setiap malam. Karena dia tak ada di sampingku, bintangnya telah jatuh pada malam itu, dan kini berada di hatiku, selamanya.

1.9.06

Do You Remember?



meniti sepi, aroma embun pagi.

bersama desir angin, hujan, dan daun melambai,

gundah habis menggerogoti dada penuh harapan pasti,

menanti semburat yang tertoreh di lidah dan hati

pandangi langit di ufuk cakrawala,

ingatkan ku akan sebuah nama,

namamu bergetar… mengalun dalam jiwa


gambar dari sini

1.8.06

Baik itu Sederhana

Baik itu sederhana, tapi bagai emas dan berlian, terbaik terkadang menjebak kita ke ruang keangkuhan. Dan emas yang paling mulia di sisi Allah adalah berbuat baik untuk selalu dzikir mengagungkan dan mensucikan NamaNya.

17.6.06

Kupu-kupu Senja


Senyum, di dada senja

Sayap kupu-kupu mengepak bergumul jingga


gambat dari sini

4.6.06

Harapan Itu Menyakitkan

Aku tidak tahu lagi apa itu harapan. Aku tahu harapan itu indah. Tapi sudah lama aku berhenti berharap. Mungkin lebih baik memulai sesuatu yang baru tanpa harapan. Biarkan semua berjalan sendiri. Let it flow. Selama niat kita baik, semoga semua berjalan dengan baik. Eh, apakah aku baru saja menyebutkan sebuah harapan? Haha... Entahlah. Yang pasti aku tidak mau terlalu sakit ketika harapan yang begitu indah menjadi hancur terberai. Kita ikuti saja skenario Tuhan.

Tahukah kamu, aku terharu membaca puisimu itu. Ataukah mungkin aku terlalu larut dalam perasaan. Tiba-tiba kurasakan mataku hangat.

Tolong, jangan menjanjikanku bahagia. Kita memang belum dipertemukan oleh semesta, namun nanti pada waktunya, kita akan berkata dalam rasa. Membuat semua klise yang ada. Atau kau ingin membuatku mati rasa?

22.5.06

Boleh Kan?

Boleh kan aku hanya percaya pada apa yang aku lihat?

Boleh kan aku percaya bahwa omonganmu hanya bualan belaka?

Panggil aku berprasangka buruk, terlalu rumit atau apa pun.

Aku hanya melindungi diri dari terluka. Dari apa yang aku rasakan saat ini.

Ah, ternyata selama ini aku masih tidak cukup kuat melindungi diriku sendiri.

Ternyata dinding tebal yang aku bangun belum cukup tinggi untuk melindungi hatiku.

Ternyata aku masih saja percaya pada bualan, yang sangat kontras dengan apa yang aku lihat.

Ya, aku sedang kecewa, sedang sedih.

Boleh kan?

Semoga ini yang terakhir.

Semoga setelah ini aku mati rasa.