17.10.08

Nyata atau Mimpi


Mungkin aku terlalu bodoh untuk menyadari.

Atau terlalu masa bodoh untuk mencoba menyadari.

Tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi.

Aku nyata, kamu nyata, sementara kita cuma mimpi.

Itu yang benar, kan?

7.9.08

No Title


Aku mempunyai kereta asap, indah, kuhiasi sendiri dengan cat warna warni, dengan lampion yang membuatku nyaman. Kereta itu siap sauh, dengan banyak dewa di dalamnya. Dewa segala dewa yang mengatur arah mata angin, mengatur derasnya hujan, dan mengarahkan impianku. Aku bermimpi untuk selalu membuatnya tersenyum.

Tiba-tiba, kereta kuda yang dulu pernah kunaiki datang dengan wajah lusuhnya. Kotor. Hatiku perih!! Aku membentuk kereta asapku dengan indah, ceria, ku kumandangkan dengan TOA agar semua orang dapat melihat kereta asapku, aku bangga. Sesaat kemudian aku melihat kereta kuda yang dulu kubanggakan, yang kuikhlaskan kepergiannya, yang merontokkan semua asa. Dengan mengendap aku berjinjit ke arahnya, menempelkan handuk basah ke tiap pori tubuhnya, membiarkan ia mendengus dengan hebat dan tertidur. Dan aku menangis dalam diam.

Kini, haruskah aku rontokkan lagi besi-besi yang menopang kereta asapku, ku kelupas lagi cat warna warni yang kulukis dengan ceria dulu, dan haruskah aku meninggalkan dewaku, yang demi kebahagiaannya aku dapat menggendongnya seumur hidupku, melihat ia menatap nanar kepadaku, sama seperti ketika sang Zeus meninggalkannya?

Aku diciptakan tidak dengan pilihan, namun pilihan yang memilihku.




gambar dari sini

16.8.08

Aku Sudah Tidak Mencintaimu Lagi, Tuhan


malam apa ini gerangan,

pura-pura bertebaran

lampu-lampu berkerlipan

tapi di dalam lengang,

kosong dan gersang

tiba-tiba kamu berbisik pelan,

"aku juga sudah tidak mencintaimu lagi, Tuhan",

aku mendengarnya tertawa seketika

sambil membayangkan Tuhan pasti begitu terluka.

setelahnya kamu berlalu,

dengan hati yang tak lagi mengelabu

kau bilang padaku, kalau kau takkan kembali

karena Tuhan hanya pengingkar janji

sementara aku masih di sini

menimbun hari dan hati

tiba-tiba aku merasa kelu

dan malu

















gambar dari sini

5.7.08

Siapa Dia?


Terbangun di tengah malam dan melihat lelaki yang kusayangi masih terlelap di sampingku. Aku tersenyum. Dia masih terpejam, seperti bayi tanpa dosa. Aku merasa begitu bahagia menjadi istrinya.

Sepertinya dia tidur dengan nikmat sekali. Mimpi apa sih? Samakah dengan mimpiku? Aku masih enggan beranjak tidur kembali. Dia adalah anugerah terindah buatku.

Kusentuh lembut rambutnya, keningnya, hidungnya, bibirnya… Dia menggeliat. Ups! Aku menghentikannya. Aku takut dia malah terbangun.

"Sayang, kamu ngapain? Ayo tidur…" katanya lirih dengan mata masih terpejam.

"Aku mencintaimu." Bisikku di telinganya.

Dia menarik tubuhku dan memelukku erat.

"Aku juga mencintaimu, Marina sayang…" katanya, masih dengan mata terpejam. “Sekarang tidur lagi yuk."

Aku terdiam kaku dalam pelukannya. Marina? Namaku Monica. Lalu siapa Marina?








gambar dari sini

5.6.08

Perpisahan


Perpisahan. Kisah yang berkali melewati hidup manusia tapi tidak satupun dari manusia itu mampu mempersiapkan diri. Diajarkan bagaimana menjamu tamu, menyambut kelahiran, mempersiapkan pernikahan yang katanya sekali seumur hidup, namun tidak ada satupun yang dapat mengajarkan bagaimana melepas kepergian, padahal manusia melewati itu ribuan kali. Itukah mengapa banyak orang memilih untuk pergi mengendap-endap seperti seekor maling kecil di dalam rumah sederhana, berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara?

Seperti ribuan hari yang lalu ketika dengan lantang seorang lelaki berseru “Jangan hubungi aku lagi.”

Saat itu ia tidak mati, ataupun kembali memisahkan diri menjadi sperma dan sel telur. Ia memaksaku pergi dengan jarak yang tidak dimengerti. Jika kematian, aku tahu dimana harus menangisi makamnya, dan jika ia kembali menjadi sperma aku tahu harus melakukan apa untuk membuat ia kembali ada.

Setelah melewati masa dengan besarnya perhatiannya, kini ia memaksa agar aku, perempuan yang begitu disayanginya, seketika dalam hitungan sepersekian detik berubah menjadi sepi dan sendiri. Bagaimana bisa? Beberapa saat sebelumnya masih dipanggilnya aku dengan panggilan kesayangannya, Cantik. Lalu ia berharap aku segera dapat berlari mengejar mimpi dimana mimpi satu-satunya adalah berada di sampingnya sepanjang hidupku?

Apa sedangkal itu hari kemarin? Tanpa ada pertimbangan apa yang akan terjadi pada dua manusia yang begitu saling menyayangi kemudian dipisahkan begitu saja. Ia tidak mati, masih hidup dengan cacing-cacing di perutnya, bukan mengegerogoti daging dan tulang belulangnya. Tutup semua luka. Untukku ia mati.





gambar dari sini

3.5.08

Koma Menjeda Makna


mengapa mencoba pergi dari hariku?
mengapa berusaha hilang dari pandangku?
harusnya aku, bukan kamu
ternyata semua tak pernah mudah untuk dijalani
seperti menghilangkan udara yang menjadi bagian nafasku
sesak, dan aku semakin lemah
dengarkan sayang, dengarkan aku...
aku tak lagi peduli bagaimana jalan hidupku
tapi aku peduli ketika kulihat kau tak ada di jalan itu
kukirim kau sebentuk koma, jika kau ingin menjeda sejenak
namun semesta, tak pernah memberiku titik untukmu