13.5.09

Lakukan

Lakukan itu sekarang dan beranikan diri. Atau kamu, 30 tahun lagi, sambil terbaring di tempat tidurmu, kamu menyesali jalan hidupmu, karena saat kau muda, kau tidak berani mengambil keputusan, hanya karena kau takut, takut oleh pikiranmu sendiri, takut akan apa kata orang lain.

3.4.09

Teman, Aku Rindu…


Memori malam itu. Dibawah pengaruh zat kimia yang merasuki arus darah. Ia mulai meracau tentang waktu. Terjawab sudah semua pengingkaran terhadap rasa.

Kamu harus selalu bernyanyi, ujarmu sambil tersedu. Karena kami selalu mendengarmu bernyanyi, lagu apapun itu. Aku menangis!

Pikiran bermain ke masa beberapa tahun yang lalu. Ketika semua begitu indah. Aku sudah pergi terlalu lama rupanya. Kubiarkan mereka hanya menatapiku dari kejauhan. Menghela nafas, dan memperhatikan tiap langkahku, tidak dengan mata tapi dengan hati.

Kamu selalu bisa membuat orang lain bersandar padamu, namun kamu lari ketika terjebak dengan masalahmu sendiri. Apa bahuku kurang empuk hingga kau enggan untuk menyentuhnya, apa telingaku kurang tajam hingga kau enggan untuk bercerita? Lagi-lagi aku kembali menangis.

Aku telanjang di depanmu, jawabku. Kamu terlalu tahu, topeng mana yang kudapatkan. Aku takut! Aku lelah telanjang, jawabku lagi.

Tapi aku rindu kamu. Aku rindu tiap masa yang kita lewati. Dimana berpegangan tangan saat gelap, saling menuntun berbekal senter 5 watt. Tidak ada yang tahu medan, tidak juga tahu ular, namun kita kuat karena saling menguatkan. Aku benci caramu memperlakukanku, tapi aku rindu kamu. Dan lagi-lagi aku kembali menangis.

Pertengkaran malam itu, dengan kepala tersembunyi di bawah selimut akan selalu mengisi hati. Kemanjaan tingkah laku, senangnya wajah ketika melihat celana pendek bergambar burung kecil kuning dan cerewet, selalu mampu membuatku tersenyum. Celaan, petuah yang tergambar di wajah bahkan sebelum kau berbicara terus bergelayut di kepala. Dan ketika dengan rela kau mengetik pesan tentang lagu kejujuran, yang kira-kira bunyinya “Menangislah jika kau ingin menangis. Tapi kembalilah untuk tersenyum.” mampu membuatku melewati masa tersulit.

Teman, aku rindu…








gambar dari sini

8.3.09

Rona Pelangimu


meraih sebilah rona pelangimu seperti menyeberangi lautan putih beku yang mengkristal, mengayuh dalam kobaran emosi.

aku tersulut panas bayangmu.

duhai rembulan, dalam setiap cekungmu tertawan bait-baitku untuk kau sisipkan dalam serangkai mimpi, sebuah penantian.

duhai gemintang, dalam setiap sudutmu terbuai harapku.

terlena.

bahasa yang tak bersuara terlahir.

3.2.09

7.1.09

Aku Hanya Ingin Kamu Bahagia


Bila mungkin bisa, akan kutukar air mataku dengan senyum di bibirmu.
Bagilah resahmu denganku.
Tolong, jangan kau nikmati sendiri.
Sungguh, aku tidak pernah bisa tenang bila melihatmu gelisah.
Hisap saja manis di bibirku.
Lepaskan pahit di hatimu.
Biarkan saja terbang bersama angin.
Jangan biarkan sedih, kecewa dan khawatir menempati hatimu.
Sesaki saja dengan bahagia, bahagia dan bahagia.

29.12.08

Senja dan Kerinduan


Semburat merah jingga mewarnai langit senja. Sang mentari perlahan-lahan tenggelam di ufuk barat. Belaian sang bayu mendorong kapal nelayan berlabuh. Deburan ombak menjadi senandung indah bagi para nelayan itu. Indahnya langit merah, tak pernah seindah senja yang lembut dan menyala. Mempersembahkan semburat panorama yang tak terkatakan dengan semua kata di dunia. Saat yang tepat untuk melarikan diri sejenak dari keramaian kota. Kemana kaki ini melangkah. Kabur akan penjelmaan arah. Semburat merah, mengintip lewat wajah. Lelah terkalah resah.

Indah dan romantis. Seperti saat aku duduk di pantai Kuta. Atau hanya sekedar duduk di halaman kampusku dulu.

Sang mega ikut menghiasi, membias keemasan mengiringi mentari yang tenggelam. Lembut merajut garis-garis wajahmu. Tercipta satu harmoni menyentuh. Desau rindu prana di hela suasana mengurai kesetiaan. Kubuat prasasti menjemput impian dari tulus hati. Biduk telah ditambatkan di pantaimu bawa sebentuk hati. Menikah denganmu bertahtakan kesetiaan bermahkota cinta. Ah, bayang-bayang kerinduan itu!
Garis wajahmu, dengan untaian senyum yang merekah. Senyuman termanis di antara benderangnya semesta. Ingin ku melumat rasa. Tentang arti senyum indahmu diselakar ini. Pernah kau bilang padaku, 'aku tidak bisa tersenyum'. Apa sulitnya membuatmu tersenyum? Aku akan membuatmu tersenyum untukku setiap hari. Aku ingin membuatmu tersenyum saat dirimu bersedih. Bukankah aku bisa membuatmu tertawa? Bahkan membuatmu jatuh cinta...

Angin yang berdesir tiada terasa, melantunkan bait-bait kesyahduan, melenggak-lenggok bagaikan penari, terus merambah diantara dedaunan sore. Di ujung senja ingin kusampaikan, kerinduan dan setangkai mawar yang masih tersimpan darimu.

Senja selalu membuatku terpesona. LukisanNya yang Maha Sempurna. Dan.., selalu mengingatkanku pada kematian. Ya, aku seperti melihat malaikat maut sedang menungguku di ujung langit sana. Apakah dia sedang menjemputku? Apakah telah tiba waktuku?

Entah kenapa aku merasa waktuku semakin dekat. Tak ada yang mengharapkan kematian. Mungkin ini hanya perasaanku saja.

Semoga Allah masih memberiku kesempatan, aku masih punya keinginan. Ijinkan aku, melihat senyummu, menyentuh wajahmu, mencium tanganmu... Sampai renta..

Bayanganmu selalu menghadirkan kepedihan pada setiap jejak-jejak langkah menapaki jalan-jalan kelabu. Dimana ilustrasi itu selalu menghadirkan selaput cinta yang telah kau pahat sendiri. Sunyi merayap mendahului bahasa jiwa tak terjewantahkan. Aibpun tidak bisa menjalar dimana desiran angin mengabarkan berita hati dan perasaan menyatu dengan aliran darah kaku tak terangkai kepada muara pengaduan.

Aku hanya ingin memelukmu dari senja hingga shubuh tiba. Maka kerinduan ini akan lunas terbayarkan.


gambar dari sini