9.12.10
tak bisa membencimu
bagaimana bisa aku membencimu... karena setiap aku merasa sedih dan kecewa memikirkanmu, sekejap kemudian kau selalu bisa membuat aku tersenyum dan melupakan rasa sedihku. seandainya aku bisa membencimu, atas cinta yang sulit kutepis dan tak bisa kuingkari ini. entah mengapa.... aku belum sadar semua itu hanya maya. sebatas khayalan semu yang hanya bisa kupandangi dengan kaca mata buramku. satu hal yang paling aku benci adalah karena ternyata aku tidak membencimu. dan tidak pernah bisa membencimu. tidak sedikitpun. sama sekali tidak.
23.11.10
Hanya Senja di Mataku
di pipimu, air mata menjadi sungai
yang mulai menepi ke laut hatiku.
pasir, hanya hening yang tak bisa bicara.
bisu.
yang mulai menepi ke laut hatiku.
pasir, hanya hening yang tak bisa bicara.
bisu.
di ujung hatimu,
bayang-bayang matahari tinggal usia,
lindap jadi buih.
padahal timur tinggal sesaat di dada.
padahal laut masih jauh di hatimu.
bayang-bayang matahari tinggal usia,
lindap jadi buih.
padahal timur tinggal sesaat di dada.
padahal laut masih jauh di hatimu.
maka masih adakah pasir di sana?
hanya ada senja di mataku.
penuh awan, pekat rindu
dan air mata
hanya ada senja di mataku.
penuh awan, pekat rindu
dan air mata
16.11.10
Bintang
suatu ketika ku tersesat dalam pekatnya gelap
dalam heningnya sepi
dalam dinginnya malam
sekelebat, setitik bintang jatuh
cahayanya menghampiriku
walaupun ia jauh disana
bintang itu menerangiku
menghangatkanku
menuntun jalanku
**
namun
benakku bertanya
dia hanya maya
semu
buah imajiku yang terlalu banyak berkhayal
**
ahhh… apapun itu
setidaknya ku bisa menikmatinya saat ini
walau hanya cahayanya
entah sampai kapan
??
9.11.10
8.11.10
Bulan Biru
Tersaput rindu yang mendera
Hangus terbakar api matahari
Cedera oleh sepi dini hari
***
Duh, bulan biru yang mencium hatiku
penabur cahaya hati yang sunyi
entah kapan kau bisa kurebut
Jika malam ini
bulan biru menggantung sampai pagi
terpaku memandang bumi
lalu pergi dan membiarkanku sendiri
dalam sepi.
tanpa bisa kumiliki.
itulah berarti
Aku pelangi
tanpa warna-warni
6.11.10
Sajak Rinai Hujan 1
Malaikatku. Tutup matamu kuat-kuat,
lalu tatap hatiku lekat-lekat.
Rabalah apa yang kau anggap rasa.
Rasailah apa yang kau pikir tak biasa.
lalu tatap hatiku lekat-lekat.
Rabalah apa yang kau anggap rasa.
Rasailah apa yang kau pikir tak biasa.
Kemasi, huruf-huruf hidup yang kau hirup dari hujan tak bertuan.
Pada satu bilik hatiku yang paling sepi,
ciptakanlah puisi.
Pada satu bilik hatiku yang paling sepi,
ciptakanlah puisi.
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)