maukah kamu menjadi lambaian tanganku? mengucap selamat tinggal pada mereka yang tidak tertulis pada takdirku.
maukah kamu menjadi suaraku? alam membungkamku bila bersamamu.
maukah kamu menjadi spasi dalam kumpulan sel-sel hurufku? biar bermakna aku dalam bait-bait puisi semesta.
maukah kamu menjadi tirai kamarku? menjaga apa yang rahasia dari diriku, menjadi tempat ternyaman untuk hatiku.
maukah kamu menjadi kameraku? mengabadikan semua yang jujur dari hariku. merekam suka duka, tangis tawa. dan kita akan mengenangnya pada sebuah album dengan senyum.
11.10.13
9.10.13
Hanya Rindu
Sungguh, jangan kau ukir rindu dalam lukisan malam
Terlalu pekat untuk ku pandang dari kasatku
Aku masih termangu ragu
Mendengarkan nada-nada bimbang yang sesak teralun
Aku hanya rindu
7.10.13
5.10.13
Hujan
Hujan datang, menyentuh ingatan, membaurkan jejak kenangan
Menciptakan puisi di bilik hatiku yang paling sepi
Mengaburkan bayang dan air mata
3.10.13
Mengejawantahkan Cinta
Seolah aku menemukan rumah, tempatku pulang. Tiap kali aku melihat lengkung senyum di bibirmu. Seolah aku tak pernah mengenal apa itu luka. Ketika dua tanganmu merentang menyambut pelukku.
Bersamamu, derita seperti stempel dan bantalannya yang saling mencari untuk mensahkan surat-surat pasti. Sebut saja ini cinta, maka segalanya akan selesai dengan lapang dada .
Bersamamu, aku hanya layang-layang yang terulur benang diterbangkan angin kesana-kemari. Tapi pada akhirnya aku kembali lagi padamu. Bukankah sebenarnya itu juga inginku?
Aku menyayangimu dan mempercayai kebaikan. Itu sebabnya kecewa enggan datang. Karena sebelum sampai, ia sudah kembali pulang.
”Selamat makan” lalu “Selamat malam”. Lupakan kepedihan, sebab antara lapar dan kenyang ada cinta yang mekar di dalamnya. Apakah kau ragu?
Aku menyayangimu hingga hanya kebaikan dan keselamatanmu yang aku pedulikan. Bukan lagi tentang jatuh cinta atau rasa sakit, aku menikmati kebersamaanku bersamamu. Seperti sengaja menyesatkan diri makin jauh dalam labirin. Atau mungkin jalan melingkar yang tak menemukan ujung pangkal.
Apakah kau tahu, embun, pagi dan dingin merupakan keajaiban yang tidak sempat Tuhan tulis?
Bila engkau pagi, aku tak ingin lekas beranjak. Menemanimu lalu menyayangimu sampai matahari mengusirmu untuk kembali. Ingin kuselipkan doa pada tiap butir air matamu, saat jatuh di taman, bunga-bunga mekar kembali di bibirmu. Semoga malam membawamu tersenyum untuk menyambut pagi.
Apakah kau tahu? Tak ada aamiin yang terlewat tanpa aku menyebutkan namamu sebelumnya. Tak ada pinta tanpa bahagiamu di dalamnya. Berharap kita bisa bersama dalam satu bingkai bahagia. Kamu di depanku dan aku sedepa di belakangmu. Menyeru menyebut namaNya. Maukah kamu tetap bersamaku sehari lebih lama dari selamanya?
Yang tersisa kini, hanyalah bayangan daun-daun yang letih di jendela, dan wangi sunyi tubuh malam.
Jika alam memberikan pendapat, cinta yang baik seperti batang kayu pohon cendana, ia kuat dan harum. Begitulah aku dan kamu seharusnya. (Andai saja).
Aku ingin menjadi alat yang saat ini kau pegang,atau boneka yang selalu menemani tidurmu. Agar saat kau terjaga aku orang yang pertama kali kau lihat saat matamu terbuka.
Bersamamu, derita seperti stempel dan bantalannya yang saling mencari untuk mensahkan surat-surat pasti. Sebut saja ini cinta, maka segalanya akan selesai dengan lapang dada .
Bersamamu, aku hanya layang-layang yang terulur benang diterbangkan angin kesana-kemari. Tapi pada akhirnya aku kembali lagi padamu. Bukankah sebenarnya itu juga inginku?
Aku menyayangimu dan mempercayai kebaikan. Itu sebabnya kecewa enggan datang. Karena sebelum sampai, ia sudah kembali pulang.
”Selamat makan” lalu “Selamat malam”. Lupakan kepedihan, sebab antara lapar dan kenyang ada cinta yang mekar di dalamnya. Apakah kau ragu?
Aku menyayangimu hingga hanya kebaikan dan keselamatanmu yang aku pedulikan. Bukan lagi tentang jatuh cinta atau rasa sakit, aku menikmati kebersamaanku bersamamu. Seperti sengaja menyesatkan diri makin jauh dalam labirin. Atau mungkin jalan melingkar yang tak menemukan ujung pangkal.
Apakah kau tahu, embun, pagi dan dingin merupakan keajaiban yang tidak sempat Tuhan tulis?
Bila engkau pagi, aku tak ingin lekas beranjak. Menemanimu lalu menyayangimu sampai matahari mengusirmu untuk kembali. Ingin kuselipkan doa pada tiap butir air matamu, saat jatuh di taman, bunga-bunga mekar kembali di bibirmu. Semoga malam membawamu tersenyum untuk menyambut pagi.
Apakah kau tahu? Tak ada aamiin yang terlewat tanpa aku menyebutkan namamu sebelumnya. Tak ada pinta tanpa bahagiamu di dalamnya. Berharap kita bisa bersama dalam satu bingkai bahagia. Kamu di depanku dan aku sedepa di belakangmu. Menyeru menyebut namaNya. Maukah kamu tetap bersamaku sehari lebih lama dari selamanya?
Yang tersisa kini, hanyalah bayangan daun-daun yang letih di jendela, dan wangi sunyi tubuh malam.
Jika alam memberikan pendapat, cinta yang baik seperti batang kayu pohon cendana, ia kuat dan harum. Begitulah aku dan kamu seharusnya. (Andai saja).
Aku ingin menjadi alat yang saat ini kau pegang,atau boneka yang selalu menemani tidurmu. Agar saat kau terjaga aku orang yang pertama kali kau lihat saat matamu terbuka.
Ditulis bersama @acenk_kenari
1.10.13
Pembagian Peran
Di-tua-kan, di-anak-kan.
Pembagian peran menoreh kotak hati.
Di-elu-kan, di-tiada-kan.
Pembagian rasa dalam keseimbangan sinergi.
Jika selalu ada yang di bawah, kenapa tidak kita buat sama rata saja? Aku di tengah, kamu pun di tengah.
"Tidak bisa begitu. Kadar garamku lebih asin," ujarmu.
Maka selesai masalah pembagian.
Ringan sama dijinjing, berat silahkan kau pikul.
Semua ada porsi, semua ada kadarnya. Keseimbangan bukan bagaimana semuanya sama rata, tapi bagaimana semua kadar itu saling melengkapi dan saling menguatkan timbangan-timbangan kehidupan.
Pembagian peran menoreh kotak hati.
Di-elu-kan, di-tiada-kan.
Pembagian rasa dalam keseimbangan sinergi.
Jika selalu ada yang di bawah, kenapa tidak kita buat sama rata saja? Aku di tengah, kamu pun di tengah.
"Tidak bisa begitu. Kadar garamku lebih asin," ujarmu.
Maka selesai masalah pembagian.
Ringan sama dijinjing, berat silahkan kau pikul.
Semua ada porsi, semua ada kadarnya. Keseimbangan bukan bagaimana semuanya sama rata, tapi bagaimana semua kadar itu saling melengkapi dan saling menguatkan timbangan-timbangan kehidupan.
Langganan:
Postingan (Atom)