3.5.14

Gunung


Ini tentang gunung. Tentang dunia kamu sebenarnya. Seorang teman mengajakku ke Rinjani setelah tahun lalu dia sukses berangkat kesana. Jawabanku: pengeeenn. Ya, cuma itu. Bulan kemarin juga temanku yang lain mengajakku ke Semeru. Huff.., dengan jawaban yang sama, pengen. Tanpa mengiyakan.

Kondisi yang tidak memungkinkan membuat aku cukup berangan saja. Kalau tidak ingin sering-sering bertemu dokter langganan. Padahal waktu masih kuliah, aku bagian pecinta alam di kemahasiswaan. Ya boleh percaya boleh tidak. Beruntunglah aku masih pernah menginjakkan kaki di Bromo dan Ijen. Dulu juga waktu SMA, ingin sekali masuk jadi anggota pecinta alam dan langsung dilarang sama ayah. Dan akhirnya ikut ekskul pramuka.

Waktu temanku ke Rinjani, dia rajin live report gitu. Sambil pamer-pamerin foto-foto disana. Yang ke Semeru juga gitu. Yang di rumah ngiler.

Jadi, kapan kamu mau mengajakku seperti mereka? Mengajakku ke puncak... pelaminan, maksudnya. Ups!

2.5.14

Harap

Aku pernah berharap, namamu nanti adalah nama yang bersanding dengan namaku sebagai ‘yang berbahagia’ bukan sebagai ‘yang diundang’.

1.5.14

Tak Mungkin Kembali

Vino menghela napas panjang. Kalau kata orang, melupakan perpisahan yang pahit itu mudah, ternyata salah. Kemarahan dan kebencian bukan berarti selesai, melainkan membutuhkan penyelesaian.

Cika terdiam, beberapa saat. Kepalanya berat. Perutnya bergejolak dan mual. Ia tidak tahu apa yang diinginkannya sekarang. Kecuali, merasa tenang dan berharap bangun dengan kesadaran bahwa semua hanyalah mimpi buruk.

“Aku lupa dulu mau memberikan CD Coldplay ini.” kata Vino.

Cika menjatuhkan tubuh di kursinya. Diletakkannya CD itu di atas meja dengan sedikit kasar. Lelaki itu benar-benar membuat emosinya berada di ambang batas meledak. Untuk apa Vino melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya Vino inginkan darinya? Merayunya? Mengajaknya bernostalgia? Atau sedang membuat lelucon?

Vino cukup bingung melihat wajah Cika sama sekali tidak menunjukkan keramahan. “Maaf kalau CD itu membuat kamu terkejut. Aku hanya ingin meminta maaf. Aku masih menyayangimu.”

“Mulai sekarang, kamu tidak perlu memberikan aku apa pun…,” ujar Cika seraya menahan napas. Seluruh emosinya seakan naik dan berkumpul di ujung lidah. Menatap mata Vino yang terguncang memberikannya sedikit kelegaan. Terkadang seseorang seperti Vino perlu tahu bagaimana rasanya sebuah hantaman keras.

Sesekali Vino sering memikirkan Cika. Sebenarnya, ia yang selalu menghindari memikirkan perempuan itu. Satu atau dua kali, ia pernah ingin menelepon, tapi berubah pikiran. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Cika setelah mereka berpisah.

"…Dan kita tidak mungkin kembali lagi seperti dulu." lanjut Cika. Vino memegang kuat-kuat air mineral gelasnya. Ia hampir meremukkan benda itu. Tentu saja ia bukan orang yang benar-benar bodoh. Ia sadar, sangat mustahil bisa kembali seperti dulu, menghindari keinginannya melihat perempuan itu. Matanya berkhianat. Brengsek!

Vino terdiam, matanya kali ini tidak berpaling. Cika gelisah terus berada di sampingnya. Ada yang berdenyut di tubuhnya mengingat masa lalu mereka. Kehadiran Cika beserta kenangannya dalam situasi yang berbeda ini, memberikan efek emosi naik-turun. Sama seperti perasaan yang tumpang-tindih dengan rasa sakit, kecewa, dan sisa amarahnya.

Ketika Cika mengalihkan pandangan, Vino melirik mengawasinya. Rambut panjangnya menyentuh lembut bahunya dan terlihat mengilat terkena cahaya. Kedua tungkainya di bawah rok selututnya bertumpuan, memperlihatkan sikap duduk tenang. Vino ingat, setiap marah, Cika selalu seperti itu. Diam. Tenang. Tidak ingin menunjukkan gejolak amarahnya. Cika selalu membuat Vino hampir gila jika berhadapan dengan dirinya yang seperti itu.

Vino menelan ludah. Ia semula memang merasa bahagia dan berharap baik-baik saja. Baik untuknya, baik untuk Cika. Namun, nasihat selalu ada benarnya, kehilangan merupakan pelajaran terbaik. Semuanya hanya fatamorgana. Dan, sekarang dirinya tak ada beda dengan musafir mencari mata air di gurun pasir yang panas. Butuh waktu panjang menemukannya atau ikut hilang bersama bayangan semu air di kejauhan.










gambar dari sini

17.4.14

Masih Mengingat Kita?

Selalu ada yang bisa diputar ulang di dalam kepalaku. Kenangan yang berjejalan tentang kamu, perbincangan-perbincangan kita, hingga lekat wangi tubuhmu dan renyah tawamu. Seperti ada tombol rewind yang tak perlu ditekan. Sekejap, adegan-adegan lama bagai terulang di depan mata.

Aku masih mencintai, meski tidak lagi berusaha membuatmu peduli. Masih memperhatikan meski tidak lagi terlalu terus terang. Masih merindukan perbincangan-perbincangan kita di waktu luang meski setiap hari rindu itu terus berusaha aku kurangkan. Masih otomatis tersenyum begitu saja kapan pun ingatan tentangmu tiba-tiba mengunjugi kepala.

Kamu adalah yang pertama kali teringat dan selalu kuucapkan 'Selamat pagi'. Dan pasti akan kamu balas, "Jangan lupa sarapan ya. Hati-hati di jalan." dan "Yang semangat kerjanya, ya." Kapan pun kamu melakukannya, ada perasaan hangat di dada. Mungkin memang benar apa kata orang, sangat menyenangkan ketika kita diperhatikan.

Atau perbincangan malam. "Aku tidur dulu ya sayang. Ngantuk banget."

"Iya sayangku. I love you. Mimpi indah ya sayang."

"I love you too."

Sesederhana kalimat-kalimat itu yang kita ucapkan setiap malam. Bagai mantra, kini tak mau hilang dari ingatku.

Kemarin, aku mendengar lagu "Thank You for Loving Me" dari Bon Jovi, lalu teringat kamu yang sering menyanyikan lagu itu. Semalam, aku minum kopi hitam hanya karena rindu kamu memarahiku saat aku tak begadang semalaman.

Seperti saat ada seekor kupu-kupu merah yang tiba-tiba datang, entah dari mana ke meja kita. Ia terbang di ujung meja di atas kepalamu. Lalu berputar-putar sebentar.

Momen yang begitu sebentar saat itu. Tidak ada yang memperhatikannya. Hanya aku sendiri. Ia membawa pesan kepadaku, pesan yang akhirnya aku mengerti. Kupu-kupu itu seolah bilang kamu tak selamanya jadi milikku.

Aku ingin kamu tinggal, tentu saja. Tidak ingin kita berpisah, tentu saja. Tapi aku bisa apa?

Banyak yang bertanya tentangmu. Tentang bagaimana kabarmu sekarang, tentang kenapa kamu tidak pernah lagi aku ceritakan. Dia pasti sekarang bahagia bersamamu. Aku tahu ini karena aku mengenalmu.

Kamu, apakah masih mengingat semua ini sebaik aku mengingatnya?

gambar dari sini

8.4.14

Melebur Ragu


Kalau suatu hari aku tidak ada, apa kamu akan mencariku? Kalau suatu hari aku pergi, apa kamu akan mengharap aku kembali?

Aku dan semesta pernah mendiskusikan ini, segalanya ramah dan bijaksana memelukku. Meski bola mataku tak lagi dihiasi rupamu, jalanku adalah hal menemukanmu. Doaku adalah rindu yang memanggilmu kembali.

Aku menyimpul jawaban dari diammu. Hanya senyummu yang terukir yang tak mampu kubaca maknanya. benarkah yang kuraba serupa dengan getar hatimu?

Kekasih, aku pernah menitipkan mawar di sela telinga indahmu. Apakah aku pernah memintanya lagi dan menawarkan pada hati yang lain? Tidak. Kala mencintaimu, aku sudah tidak memerlukan lagi sempurna yang terlahir di luar sana. Suara mereka terlalu berisik, aku memilih diam. Semoga kita bertemu pada lamunan masing-masing.

Salahkah bila aku merasa kamu tak peduli? Kadang rasa itu mengayunkan bimbang, mengombang-ambingkan sayang yang begitu besar untukmu. Namun pencarian telah lama usai. Berhenti di titik tawamu. Jatuh tepat di binar matamu. Karena tak ada lagi yang mampu mengubah hati. Seperti apapun kamu tak peduli, aku masih disini. 'Begitu lelah sudah ku harus menepi.'

Tak ada yang salah, hanya aku yang terlalu bermain dengan hatiku sendiri tanpa memberimu kabar tentang cintaku padamu. Aku menyimpannya agar kekal di suatu masa, dimana Tuhan menakdirkan selama untuk kita. Percayalah, aku hanya tegar yang mengabdikan perih. Aku adalah bahagia yang menyembah duka.

Apa senja menyapu wajahmu tanpa telapak tanganku, sedang aku matahari yang mengantarmu terbenam dalam kelambu? Aku terlupa semua teori tentang cinta. Tapi tetap saja cinta adalah perbuatan dan bukan hanya kata-kata. Akan kubiarkan kedua tangan ini tanpa genggam siapapun, hingga 'selama' yang ditakdirkan Tuhan untuk kita menjadi nyata.

Tidak, senja datang hanya menitipkan rindu, tak ubahnya hujan. Pergi dan hilang tanpa mengerti ini akan menyiksaku sangat. Cinta memang perbuatan tapi dia datang menari meliuk di antara huruf per huruf lafadz doa yang kau ucap. Segalanya akan nyata, Kekasih. Meski surga penawar yang nyata sekalipun, tetap 'kita' adalah hal yang aku nanti sebelum kita memasukinya.

Kemarilah, bersamaku menari di bawah deras hujan. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu, Kekasihku? Kamu selalu mampu meredam resahku, melupakan perih yang menyesakkan. Beri aku satu pelukan, larut saja di basahnya, di dadamu.

Aku mencintaimu. Kamu, adalah jalan setelah surga. Sebegitu indahnya.


Ditulis bersama Muhammad Irsyad Al-djaelani

10.2.14

Kepada Laki-laki

Aku menjadi cenderung padamu karena dua hal. Pertama, karena aku perempuan. Kedua, karena kau lelaki. Kemudian aku jatuh hati, karena kau berlaku selayaknya laki-laki. Semata-mata dengan begitu, aku tergerak menjadi sebenar-benarnya perempuan.

Aku menjadi yakin padamu karena kau ragu pada dirimu sendiri

Laki-laki yang layak dipilih adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan

Perempuan yang baik adalah perempuan yang sulit dimengerti

Karena penjagaan dirinya begitu rapih

Aku ceritakan sedikit.

Kau harus mencari tahu lebih banyak.


Kau bingung? Jangan sedih.

Bahkan perempuan seringkali gagal memahami dirinya sendiri

Dari sekian banyak laki-laki, kenapa aku harus memilihmu?

Karena … (aku tak pernah terlalu yakin dengan jawabanku sendiri)

Perempuan menjadi mudah meragu

Karena senang memperhatikan hal-hal kecil

Mengapa laki-lak bisa tampak begitu yakin?

Karena laki-laki lebih sedikit berpikir tentang kemungkinan

**

Perempuan dipilih karena pertimbangan masa lalunya

Laki-laki dipilih karena pertimbangan masa depannya

Hal ini tidak sepenuhnya benar

Karakter seseorang dibentuk dari masa lalunya

Membangun peradaban berdimensi masa depan

Laki-laki mesti berkarakter

Perempuan faktor kunci masa depan

Bagaimana mungkin keduanya dipisahkan?

Perempuan menyenangi lelaki yang mirip ayahnya

Laki-laki menyenangi perempuan yang mirip ibunya

Pastikan keduanya potensial menjadi ayah dan ibu yang baik
 

Don’t marry a man unless you would be proud to have a son exactly like him.

Marry a woman if you’re sure enough she would make your child says, “I have a great mom.”

**

Hanya perempuan yang boleh menjadi penyebab dari krisis

Laki-laki harus selalu stabil

Perempuan mudah memaafkan

Laki-laki mudah berbuat salah

Karena bagi perempuan, segala sesuatu bisa jadi masalah

Untuk keluar dari krisis

Laki-laki harus lebih berinisiatif

Perempuan menolak lupa pada luka

Laki-laki harus selalu bertanya pada perempuannya, “maumu apa?”

Walaupun pada akhirnya perempuan akan menjawab, “terserah padamu saja.”

Perempuan senang digombali

Meski tahu banyak bohongnya

Fakta bahwa pada dasarnya perempuan bersifat manja adalah kesenangan lelaki

Meski tahu banyak menyusahkannya pasti


Seandainya seorang lelaki harus memilih satu dari dua pilihan :

ketenangan tanpa perempuan atau kesusahan bersama perempuan,

niscaya dia akan rela menerima kesusahan asal bersama perempuan.

(Sabda Rasulullah)

**

Kemampuan laki-laki mendengar lama-kelamaan akan berkurang

Karena terbiasa menghadapi perempuan yang sulit dihentikan saat bicara

Secara sadar perempuan akan menumpulkan kepekaannya

Terbiasa berhadapan dengan laki-laki yang selalu menganggap semuanya baik-baik saja

Meski lelakinya selalu mengagumi setiap hari

Perempuan selalu merasa dirinya tidak cantik

Setidaknya insecure dengan kehadiran perempuan yang lebih cantik

Meski perempuannya selalu menyusahkan setiap hari

Laki-laki selalu merasa dirinya mengecewakan

Setidaknya berpikir perempuannya bisa saja mendapat lelaki yang lebih baik

Diantara semua relasi dunia yang seringkali membuat frustrasi

Orang bilang relasi emotional yang melawan mainstream ini adalah home based

Menuliskan relasi antara keduanya seperti tidak pernah selesai

Relasi paling jauh dan paling luas yang terjadi diantara dua anak manusia


The definition of beautiful woman is a man who loves her.