20.9.13
Bintang Jatuh
Pernah kau katakan, aku berbeda, aku bukan perempuan biasa. Aku, langit tanpa batas dan kepak sayapmu. Bintang jatuh, semburat warna keperakan, berkilau megah berpendar-pendar kemudian runtuh berhamburan di pucuk pepohonan. Mimpi tanpa warna dan segala yang dapat kau temukan di dalamnya. Bahu untuk jiwa yang lelah, tangis kekalahan, dan suaraku yang membasah. Kau matahariku. Udara dan airku. Gemintang di malam tergelapku.
Kau. Aku. Seperti dua bocah yang berbagi coklat dan keriangan dari kotak yang sama. Tapi memang cuma ini yang kita butuhkan, bukan? Bersamamu, bahkan satu pelukan, satu sentuhan paling sederhana adalah sebuah kemewahan.
Dunia kita adalah jutaan aksara, ribuan kata-kata melayang-layang di udara. Dan sekian tahun cahaya membatasi dua galaksi kita. Ah, jarak kadang memang menyakitkan. Tapi tahukah kamu? Kita selalu bisa saling memandang dari kejauhan. Karena aku bintang jatuhmu, dan kau matahariku.
Mencintaimu seperti bintang jatuh. Indah dan terang. Kau dan aku takut membuat bintang itu redup dengan harapan. Maka dari itu kita membiarkannya terang, lalu jatuh dan lebur… Sekarang aku mengerti dengan itu semua. Suatu saat, satu bintang akan jatuh dan lebur. Tapi bintang-bintang lain akan menggantikan posisinya dan kembali bersinar. Langit tak akan pernah benar-benar menjadi gelap. Dan bintang-bintang tidak akan pernah menjadi redup.
Sekarang aku mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar ingin pergi. Tidak ada yang benar-benar ingin tinggal. Yang ada hanya pergantian. Semua berganti. Semua berubah. Seperti musim. Seperti dunia yang terus berputar. Seperti cintaku dan cintamu. Semuanya hanya berganti. Layaknya bintang-bintang di angkasa. Indah dan terang…
Untuk sebuah masa kupersembahkan pendarku. Tapi suatu saat aku akan pergi dari semesta menyilaukan seperti supernova, kemudian meneror saja selayaknya lubang hitam menakutkan.
Habis sudah kandungan hidrogenku. Mengecil pula terasku, menjadi pucat wewarnaku. Ah, seandainya bintang terang tidak menarikku hingga ku terlarut bersama merahnya, birunya, kuningnya, jingganya.
Lihat aku pada langit yang muram. Lihatlah dengan mata telanjang. Maka kehidupan kuberikan. Gugus baru, dengan reaksi fusi luar biasa memberi energi tiada tara. Dan lahirlah aku meronakan jiwa-jiwa sebelum berlalu.
19.9.13
Go Block!
Kubuka semua media maya, mencari namamu di sana. Menanti putaran waktu dengan degupan kencang, memelototi tiap gambarmu tanpaku, meresapi tiap huruf yang kau lantunkan, dan aku terbakar dalam diam.
Salah!
Kubuka semua media maya, mencari namamu di sana. Menanti putaran waktu dengan degupan kencang, memelototi tiap gambarmu tanpaku, meresapi tiap huruf yang kau lantunkan, dan aku masuk ke dalam pintu di mana ada cara untuk ku tak perlu lagi mengenangmu. Block!
23.8.13
Kepulangan
Kujangkau ponsel yang telah membangunkanku. Hhm... Indri.
“Yeah....”
“Lagi tidur, Ga?”
“Nggak... maksudku nggak lagi!”
“Hehehe... sorry! Bagaimana... kapan kamu balik ke Indonesia?”
“Besok. Seandainya Ayah nggak sakit, aku enggan balik. Masih banyak kerjaan di sini.”
“Heh, kapan kamu mau berhenti?” Suara Indri terdengar tegas di telepon.
“Berhenti? Maksudmu?”
“Kapan kamu mau berhenti melarikan diri?”
“Belum ada yang bisa membuatku berhenti, Dri. Lagian aku belum pulih banget. Semuanya masih membayangiku.” Tiga tahun kuhabiskan menyibukkan diri dengan segudang kerjaan tanpa henti. Hhh... berhenti. Di satu detik aku berhenti, di detik itu pula otakku akan membuka file-file yang selama ini ingin kulupakan. Dengan waktu selama itu mestinya aku telah mampu melupakannya. Ah... andai semudah menekan tombol delete lalu semuanya terhapus....
“This woman... I met her, fallen in love, got the opportunity...”
“And you chose her...,” ucap Indri. “Eventhough now she’s someone else’s wife. Sejauh apa pun kamu lari, kamu tak akan bisa melupakannya, Ga. Kamu membawanya lari bersamamu. Pulanglah!”
***
Hujan telah reda sejak tadi, namun tetes-tetes bening masih tertinggal di sela-sela rumput. Dingin. Aku menyembunyikan kedua tanganku di balik sweater tebalku berharap sedikit kehangatan menyelimutinya.
Kupejamkan mata. Merunut kembali apa yang telah terjadi padaku di tahun-tahun sebelumnya dengan pikiran yang lebih jernih.
Kutatap nanar tablet di depanku. Sebenarnya ada rasa enggan kembali ke kota ini. Kota yang setengah mati berusaha kulupakan dan tak ingin kujejak lagi. Tempat-tempat yang menggoreskan banyak kenangan. Orang-orang yang pernah singgah.
Tiga tahun berlalu sudah sejak kepergianku. Tiga tahun yang begitu menyiksa. Mungkin banyak yang berubah. Entahlah...
Waktu seperti enggan berputar ketika aku duduk di taman ini. Taman yang menyimpan banyak kenangan kami, berdua dengannya. Senja ini begitu hening. Angin yang berembus perlahan dan mempermainkan ujung-ujung rambutku pun enggan mengganggu.
“Kamu menyesal?” suara Indri membawaku kembali dari masa lalu.
“Menyesal untuk apa?”
“Menyesal pulang.”
“Aku menyesal tapi bukan untuk hal itu. Aku menyesal untuk setiap detik yang terbuang hanya untuk mengasihani diriku dan untuk melupakan semua kenangan tentang dia. Menyesal karena selama ini aku membenci diriku sendiri.”
“Mungkin setiap orang akan melakukan hal yang sama, Ga. Reaksi yang cukup wajar.”
“Tapi sangat susah untuk melupakan semuanya dan memulai sesuatu yang baru.”
“Kita nggak bisa membuang sesuatu yang menjadi bagian hidup kita begitu saja. Jangan memaksakan diri. Mengenang untuk melupakan. Dengan mengenangnya, kamu akan terbiasa dengan rasa sakitnya dan semakin lama rasa itu nggak akan berpengaruh lagi.”
“Hhmm....”
“Ada ujaran, katanya, penderitaan adalah kebahagiaan. Tapi sorry, aku belum membuktikan teori ini,” ujar Indri penuh senyum.
“Andai semudah itu, Dri.”
“Pasti semudah itu, yang kamu perlukan hanya usaha dan sedikit waktu. Sudah ketemu Gendis?”
“Belum. Dan aku rasa tidak perlu.”
***
Aku duduk menatap lurus batas cakrawala, biru bercampur kemerahan dan mentari semakin turun. Jiwaku terasa hangat. Begitu hangat hingga aku menikmati setiap hela napasku.
Aku tersenyum pada laki-laki yang mendekat padaku. Masih lelaki sederhana, namun memberikan arti besar pada hidupku.
“Pa!”
Senyum Duta melebar melihat Lana, anak perempuan berumur dua tahun yang semula tergolek di pundakku, turun dari gendongan, dan berlari ke arahnya. Ia membungkuk sambil membentangkan kedua tangannya, membiarkan bocah itu masuk ke pelukannya. Dijunjungnya anak perempuan itu melewati kepalanya seraya menggelitik perutnya dengan hidung. Anak itu memekik senang. Rambutnya bergerak tertiup angin. Anak itu miniatur dirinya, tetapi memiliki sesuatu yang mirip aku.
Kehadiran Lana memang bukan sesuatu yang biasa. Aku tertawa ketika Lana tak sengaja membentur pipi Duta. Laki-laki itu mengaduh dan minta dicium oleh putrinya.
***
Arga tersenyum mengamati keluarga kecil itu bermain dari bangku taman yang berada tidak jauh dari situ.
Email To: Gendis Larasati
Subject: Pada Suatu Waktu
Pada suatu waktu, mungkin kita akan bertemu di taman ini.
Aku akan meminta kamu bercerita tentang hari-hari dulu dan sekarang.
Tentang cinta yang berakhir karena Tuhan yang tak sama, juga tentang restu orang tua yang tak kunjung tiba.
Aku tahu, kamu bahagia sekarang.
Pada suatu waktu, mungkin kita akan bertemu di taman ini.
Aku dengan istriku, dan kamu akan membawa anak dan suamimu.
Dari aku
Arga Baswara
(Draft saved at 5:22 pm)
Cerita sebelumnya Permintaan Terakhir
gambar dari sini
22.8.13
Permintaan Terakhir
Mengapa aku memikirkan takdir lain untuk kami? Bukankah aku dan Arga sudah memilih jalan kami sendiri dan tidak ada yang bisa berubah?
Apa yang kupikirkan? Tidak ada kemungkinan lain untuk diriku dan Arga. Mungkin benar kata Ibu, hari ini jodoh, besok belum tentu jodoh. Dan seperti kata Arga, ada kalanya manusia hanya bisa jadi penonton tanpa bisa mengubah apa pun.
Aku masuk ke kamar. Begitu membuka pintu, mataku langsung tertuju pada selembar foto di atas meja dekat tempat tidur. Fotoku dan Duta tersenyum lepas. Tanpa disangka, emosi yang tertahan muncul ke permukaan, membuat air mata menggenang di pelupuk mataku, dan mengalir turun membasahi bantal.
Sepanjang malam, aku tidak dapat memejamkan mataku. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Kenapa aku tidak bisa berpikir bahwa Arga adalah masa laluku? Seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Kami pernah berbagi banyak hal. Aku tak memungkiri, aku selalu menyukai sentuhan Arga. Lembut. Menggetarkan.
Aku menghela napas panjang. Aku mendengar gumaman Arga waktu itu, seperti yang dikatakannya dulu, aku seperti cokelat; manis, lembut, menenangkan. Tubuhku berguling menghadap dinding. Kupeluk guling erat-erat. Sekarang, aku isteri Duta. Aku tidak mau kehilangan lagi. Tidak mau dikhianati lagi. Tapi, aku belum bisa melupakan Arga. Aku begitu mencintai lelaki itu dulu dan ketika kami berpisah, seperti merelakan separuh hidupku dibawa lelaki itu.
Seharusnya aku memang melupakan masa lalu, melupakan Arga, dan membangun hidupku dengan Duta. Tetapi kenyataannya Arga kembali dalam hidupku dengan pesona yang sama, dengan banyak kilasan indah antara mereka.
Hatiku semakin galau. Aku menggigit bibir. Apakah Arga juga merasakan keresahan ini? Apakah Arga berharap waktu kami kembali?
Aku tidak mampu untuk berpikir lagi. Aku menarik napas dalam dan memejamkan mataku.
***
Dalam beberapa malam, aku bermimpi bertemu Gendis. Berdekatan. Di antara mimpi dan nyata, satu hal yang tak dapat diubah: takdir. Kuasa Tuhan yang menentukan kami berada di jalan masing-masing. Melihat mata kecokelatan itu, aku ingat sinar bahagia di sana, aku ingin melihat sinar itu lagi karena hanya itu yang terpenting.
Teringat kata-kata Gendis, “Kadang-kadang, kita lupa mempersiapkan diri menerima kekalahan. Mungkin, karena kita terlalu banyak berharap yang baik-baik, jadi bingung berbuat apa saat menghadapi hal terburuk.”
Aku diam mendengar perkataannya. Mungkin, aku lupa memersiapkan diri menjadi seseorang yang kalah. Hatiku tertawa getir.
Bisakah takdir di antara kami berubah? Aku mengusap wajahku, menjernihkan pikiranku untuk lebih memahami kehendak dan keadaan.
***
“Ndis...” Indri dengan raut wajah sendu memanggilku.
“Kenapa, Indri?”
“Aku kemarin ketemu Arga, dia bilang mau pindah ke Singapura.”
Pindah ke Singapura? Aku tertegun. Entah dari mana, ada desakan di dadaku yang membuatku merasa sesak. Aku kehilangan Arga? Lagi?
***
Hari ini hari terakhir Arga berada di kota ini. Ya, semua harus berhenti. Aku menemukan Arga di sana, menungguku di luar kantor.
“Arga,” sapaku pelan.
Arga mencoba tersenyum. “Hai.”
“Kamu akan tinggal di Singapura?”
“Ya.” Arga berusaha mengalihkan matanya.
Aku mengangguk-anggukkan kepala.
“Aku punya permintaan terakhir,” kata Arga tiba-tiba.
“Apa itu?”
“Kamu harus bahagia bersama Duta, Ndis,” Arga menelan ludahnya susah payah, berusaha tersenyum getir. “Kamu pasti bahagia, aku tahu itu.”
Ucapan itu membuat lidahku kelu tidak bisa berkata sepatah pun.
“Kamu telah mendapatkan Duta yang lebih baik daripada aku. Jauh lebih baik.” Mata laki-laki itu memerah dan berair. Suaranya bergetar. “Duta akan menjaga kamu, mencintai kamu, selalu ada buat kamu, nggak pernah menyakiti kamu, dan nggak pernah meninggalkan kamu.”
Senyap. Rasanya sunyi sekali. Tidak ada suara, tidak ada gerak. Aku menemukan kenyataan bahwa aku akan kehilangan laki-laki itu; lagi. Kehilangan yang benar-benar hilang. Lenyap.
“Maaf.” Suaraku terdengar sangat pelan.
“Aku yang harusnya minta maaf, Gendis. Benar-benar minta maaf untuk semuanya.” Arga tersenyum miris. “Maaf karena aku tiba-tiba datang ke hidup kamu, maaf karena aku meminta kamu kembali, maaf karena aku nggak bisa mengubah apa pun.” Ia berusaha menghela napas menahan desakan dadanya dan melanjutkan, “Ndis, aku nggak akan mencari pembenaran apa pun lagi. Satu hal yang benar adalah...,” suaranya berubah serak, “aku mencintai kamu. Aku sangat mencintai kamu. Sejak lima tahun lalu.”
Ada nyeri meremang di sudut benakku. Tatapan mata Arga begitu pedih. Laki-laki itu ada di depanku, tapi perlahan semakin jauh. Lalu, aku memalingkan wajah, menyembunyikan bening yang jatuh di ujung nataku.
Arga sungguh tidak ingin pergi. Ia ingin tinggal dan melihat perempuan itu. Meski tidak bisa memilikinya, asalkan ia bisa melihatnya bahagia, lebih dari cukup. Tapi, ia tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri. Ia harus memberikan Gendis dunia yang diinginkannya. Dunianya bersama Duta. “Aku pamit, Gendis,” ujar Arga. Ia berbalik, melangkah pergi tanpa berkata-kata lagi.
Aku tertegun gamang. Nanar kutatap Arga menjauh. Dia sudah pergi. Perlahan-lahan, dia menghilang meninggalkan debu yang tertiup angin. Aku memejamkan mata. Semua mengabur dalam genangan air mataku. Aku masih punya Duta. Selesai sudah.
Cerita sebelumnya Di Angka Dua Belas
gambar dari sini
21.8.13
Di Angka Dua Belas
“Aku nggak akan kemana-mana sampai kamu naik, Gendis.”
Akhirnya, aku menyerah dan naik ke mobilnya dengan susah payah memakai tongkatku, sedikit membanting pintu karena kesal.
“Nah, begitu dong, penurut. Coba dari tadi... aku nggak bakal dimarahin orang-orang di belakang.”
“Keras kepala banget, sih,” gerutuku. Dia tertawa kecil.
“Yang keras kepala sebenarnya siapa?” balasnya lembut.
Aku terdiam. Sudah lama tidak melihat wajahnya dari jarak sedekat ini. Tidak mendengar dia bicara dengan lembut. Aku kangen. Ah. Tidak seharusnya aku berpikir begitu.
“Aku harus ke toko buku sebentar. Turunin aku di mal aja.”
Arga menggeleng. “Aku anterin.”
“Sebenernya mau kamu apa, sih? Kamu tau nggak kamu lagi ngapain?”
“Kamu mau jawaban jujur atau bohong?” Gayanya masih sangat tenang, sama sekali tidak memedulikanku yang sudah berapi-api. Dia tidak menunggu jawabanku, tapi melanjutkan perkataannya, “Jawaban bohong. Aku sayang sama Tasha dan mau melewatkan hidup sampai tua dengan dia. Dia isteri yang baik buatku. Dan, aku baik-baik aja. Aku bisa hidup tanpa mikirin ibuku, pertentangan di keluargaku, perselingkuhan Tasha, pengkhianatan Edwin. Dan kamu, Gendis.” Suaranya agak bergetar saat menyebut namaku. “Dan kamu, kamu bukan siapa-siapa buat aku. Kamu nggak lebih dari masa laluku. Kamu puas dengan jawaban itu?”
Untuk sesaat, aku tersentak. Saat menemukan suaraku kembali, aku sudah gemetaran. “Kamu kekanak-kanakan, Arga. Berhenti menyalahkan kondisi dan orang lain untuk hal-hal yang udah terjadi.”
“Atau kamu mau jawaban jujur?” Dia melanjutkan dengan nada datar yang sama, tak menggubrisku. “Aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama kita bertemu sampai sekarang. Aku berusaha untuk berhenti, tapi aku nggak bisa. Aku terpaksa menikahi Tasha, pilihan orang tuaku. Aku hanya nggak bisa membantah dan nyakitin orang tuaku. Aku nggak tahan hidup dengan topeng... aku nggak bisa jadi diri sendiri. Aku capek.”
Mobilnya meluncur dengan cepat, lalu menepi di jalan yang sepi dengan mendadak. Dia mencekal tanganku erat-erat, suaranya serak sarat emosi, berusaha menjelaskan sekali lagi. “Kamu ngerti gimana hidup penuh kepura-puraan, Gendis, kamu orang yang paling tahu tentang itu. Udah berapa tahun kamu mau bohongi semua orang di sekitar kamu bahwa kamu baik-baik aja? Aku sekarang hidup seperti kamu. Bohongin semua orang, bohongin diriku sendiri, bahwa aku masih mencintai orang yang seharusnya nggak lagi aku sayang!”
Cekalan tangannya semakin erat, kini terasa sakit. Matanya sarat dengan kesepian, kesedihan yang aku sendiri kenali dengan begitu dalam. Ya, kita sama. Kita berdua hidup dalam kepura-puraan karena takut melukai orang lain, terlebih dari diri sendiri.
“Aku hanya ingin jujur, Gendis.”
Air mata membanjiri pelupuk mataku. Aku tidak ingin menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku tidak mau teringat akan segala kenangan buruk. Yang membenci dirinya sendiri, karena menjadi seperti ini.
Jujur.
Air mata pertama menetes di tangan Arga. Responsnya bagai terkena air panas, langsung melepaskan genggamannya yang kini meninggalkan bekas merah di pergelangan tanganku. Dia mendekapku dalam pelukannya, berkali-kali berbisik, “Maaf, Gendis. Jangan nangis. Maaf.”
Aku terisak dalam pelukannya, merasa ingin melepaskan semua. Ingin jujur, ingin melepaskan semua, menumpahkan galau yang selama ini tersimpan rapi dalam hati. Karena hanya dia yang tahu. Hanya dia yang memegang kunci untuk melepaskan semuanya, dan menemukan diriku yang sesungguhnya di sana.
Matahari tepat di atas kepala. Kulirik jam tanganku. Jam dua belas tepat. Aku melepaskan diri, mengusap mata yang sembap oleh air mata. Aku mendorongnya menjauh. Seharusnya, aku tidak naik mobil ini. Seharusnya, aku tidak menumpahkan isi hatiku.
Cerita sebelumnya Potret Ibunda
gambar dari sini
20.8.13
Potret Ibunda
Dugaanku tidak meleset. Ketika akhirnya berhasil memberi tahu hubunganku dengan Gendis, Ayah diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun selama sepuluh menit penuh.
“Yah?” panggilku cemas. Ayah terbatuk-batuk kecil.
“Sebentar, Ayah mau ngomong sama Ibu dulu.” Kecemasanku tidak serta-merta menghilang. Aku justru semakin cemas membayangkan tanggapan Ibu. Aku takut ibuku akan menolak mentah-mentah dan aku tahu sekali ibuku akan mengeluarkan keputusan seperti itu. Tidak akan pernah ada jalan kompromi baginya.
Ibu seorang pensiunan karyawan BUMN. Ia juga menjadi pengajar paruh waktu di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Semua orang yang mengenal Ibu pasti akan menyebutnya sebagai orang dengan kepribadian hangat dan menyenangkan. Namun, di balik kepribadiannya yang ramah dan supel, aku tahu kalau Ibu juga seorang yang keras kepala dan tidak terbantahkan kalau sudah memutuskan sesuatu. Berbeda dengan Ayah, yang akan selalu membelaku, bahkan ketika aku melakukan kesalahan sekalipun. Ibu tidak seperti itu. Aku tahu, Ibu tidak akan ragu mengusir anaknya keluar rumah seandainya ia melakukan sesuatu yang membuatnya marah.
Aku tidak pernah menganggap Ibu menakutkan, tetapi aku paham betul Ibu punya pendirian dan harga diri kuat yang nyaris tak mampu dirobohkan oleh seorang pun.
Ketika akhirnya Ibu muncul, aku terlonjak terkejut. Aku menunggu beberapa saat, mengatur napasku agar kembali tenang.
“Arga.” Kata Ibu.
Aku menggigit bibir bawah saking cemasnya.
“Kamu sedang menjalin hubungan sama siapa, Nak?” tanya Ibu. Nada suaranya masih biasa.
“Sama Gendis.” Aku menelan ludah.
“Hmm. Udah lama kalian pacaran?”
“Dua tahun, Bu.”
“Kamu ingin menikah dengan dia?”
“Aku punya itikad baik mau serius sama dia.”
Terdengar suara Ibu menghela napas berat. “Mau ketemu Ayah Ibu kapan?”
“Sabtu ini. Kalau Ayah Ibu bisa.” Diam lagi.
“Mau dikenalin sebagai calon isteri kamu?”
Aku terdiam sebentar, bingung sendiri ditanya seperti itu. “Iya, Ibu.” Aku akhirnya mengiyakan.
“Oke.”
“Hah?”
“Ibu bilang oke, Arga. Bilang sama... siapa tadi? Nama pacarmu?”
“Gendis, Bu.”
“Iya, Gendis. Bilang sama Gendis, kami akan terima dia baik-baik. Apalagi, kalau dia serius mau jadi calon buat anak kesayangan Ibu.”
***
Aku memberitahukan Gendis semua informasi yang harus diketahui perempuan itu sebelum bertemu dengan kedua orang tuaku. Mulai dari makanan yang disukai dan dihindari kedua orang tuaku, buku yang sedang dibaca ibuku yang seorang kutu buku sejati, sampai kebiasaan buruk yang tidak disukai kedua orang tuaku.
“Sebenarnya, Ayah dan Ibu melihat kesungguhan kalian berdua. Ibu bisa melihat sejauh mana keseriusan kalian berdua untuk membentuk keluarga bersama-sama pada masa yang akan datang.” Suara Ibu yang tiba-tiba terdengar membuat aku yang tertunduk cemas mendongakkan kepala.
Aku melirik ke arah Gendis yang duduk di sebelahku, berharap menemukan kecemasan dan ketakutan yang sama dengan yang aku rasakan. Namun, perempuan itu duduk bergeming, tidak terlihat sedikit pun kegelisahan dalam sorot mata lurus yang diarahkannya pada Ibu.
Ayah menatap Gendis lembut. “Ayah merasa senang karena ternyata Arga sudah menemukan seseorang yang mau menyayangi dan merawat dia hingga tua nanti.”
“Puji Tuhan,” Gendis tersenyum senang.
Ibu dan Ayah terhenyak. “Maaf, Nak Gendis, agama kamu apa?”
“Katolik, Bu.”
Ibu langsung berdiri, “Kenapa kamu tidak bilang sama Ibu dari awal, Le?” masuk ke dalam tanpa kembali lagi.
***
“Mau dengar pendapat Ibu, Le?” Ibu menatap lekat aku sebelum acara akad nikahku dengan Tasha waktu itu. “Jujur, Ibu sebenarnya suka sama Gendis. Tapi agama kalian berbeda.”
“Udahlah, Bu,” tukasku. “Ibu jangan membuat aku semakin bimbang di saat-saat seperti ini ya. Aku hanya menuruti mau Ibu sama Ayah. Itu aja.”
“Ibu cuma ndak mau kamu nyesel, Le.” Ibu mengusap lenganku. “Apa yang benar di mata kita, belum tentu benar di mata Tuhan.”
Sekarang aku hanya bisa memandangi potret Ibu sambil menabur bunga di pusaranya. Ibu telah pergi, Ndis. Dan sebenarnya dia juga ingin kamu menjadi menantunya.
Cerita sebelumnya Pengantar Pesan
gambar dari sini
Langganan:
Postingan (Atom)

