21.3.11

Selalu, Aku Rasa…


Selalu, aku rasa,

kita akan bercakap dalam senyap

Dengan bahasa langit yang hanya kita yang tahu

serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap

lalu meresapinya ke hati dengan getir

Selalu, aku rasa,

kamu tersenyum di sana, ketika aku pun tersenyum di sini

dan kita, dengan bahasa langit yang kita punya itu,

secara bersahaja, menyapa larik-larik kenangan

dan meniti setiap selasar waktu

bersama desir rindu menoreh kalbu

Selalu, aku rasa,

kita tak dapat menafikan

batas yang membentang

dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata

serta membuat kita sadar

bahwa pada akhirnya,

dalam pilu kita berkata:

Biarlah, kita menyesap setiap serpihan senyap

dan menikmatinya, tak henti,

hingga lelap

tanpa tatap, tanpa ratap

19.3.11

menggenang

Ada air mata, menggenang di saku kemejamu
Setelah perjalanan panjang berliku
Yang tak pernah kau sesali
Walau sekali
Pernah kumengerjap manja,
lalu bertanya, “Apakah itu air mata, Ayah?”
Kau tersenyum, dan menjawab,
“Bukan, Sayang. Ini hanya sisa hujan,
yang Tuhan titipkan, semalaman.”
Lama baru kusadari,
kau hanya coba bentangkan pelangi
Di rumah kami
Tahukah engkau, Matahari, bahwa aku mencintaimu?

17.3.11

pikun


Pernahkah kamu kepingin pikun. Hanya ingin melupakan saja. Seakan-akan kamu ingin menghilangkan sesuatu dengan sengaja, segera. Seperti ingin menghapus kenangan baik itu pahit maupun manis.

15.3.11

Kebahagiaan atau…?

Ini kebahagiaan. Berulang kali aku meyakinkan hatiku bahwa ini adalah sebuah kebahagiaan yang harusnya aku sikapi dengan tersenyum.
Tapi..., kenapa aku menangis? Meneteskan air mata atas kenyataan yang aku terima ini.
Adakah yang salah dengan diriku, dengan perasaanku?
Ternyata, aku masih ingin kamu. Masih. Dan kenyataan ini membuatku harus kehilangan kamu. Harus melepasmu. Harus menutup semua khayal indah bersamamu selamanya. Karena aku tidak mungkin lagi bisa...

13.3.11

kami

Saya tidak butuh sosok sempurna yang mengagumkan, cukup dia yang selalu hadir menenangkan ketika saya diserang kepanikan. Sebaliknya, saya bersedia meminjamkan bahu sehabis dia lelah seharian, tidak tau ke mana harus menuju.
Kami, manusia biasa yang saling bisa membuat satu sama lain luar biasa.

11.3.11

Gerimis Senja, Indera dan Malaikat

Gerimis menari di senja yang sunyi, luruhkan lagi pelangi yang sempat terlukis di kanvas hari.
Indera pendengaranku coba cari bunyi, bunyi yang sangat diinginkan hati, kidung malaikat.
Indera penglihatanku terus menyusuri lekuk tubuh hari, berharap sebuah mimpi bisa terjadi, senyuman malaikat.
Lalu indera penciumanku mengendus angin yang menderu senja ini, mengais suatu wangi, bau tubuh malaikat.
Bukan, aku bukan mencari bentuk malaikat yang sebenarnya dalam cerita mimpi. Malaikat ini ialah dia penguasa hati, sebab mimpiku terjadi.
Dan senja ini, rindu lagi berteriak kencang dalam hati.
Malaikatku tak nampak di setiap putaran waktu hari ini. Mungkin tumpukkan kerjanya membuat ia tak terlihat di setiap kerja inderaku ini.
Hingga kucipta kata-kata sebagai kisah hati. Entah sajak, puisi, atau prosa aku pun tak mengerti.
Yang kutau; rindu sedang menjajah hati. Hingga terciptalah tulisan ini, untuk kekasih yang sangat kurindui. Dia, sang malaikat hati.