25.3.11

Rinduku Terluka

Pada bintang malam aku menunduk.
Merangkak tertatih di bawah tatap bulan.
Malam ini tak hamparkan kasih.
Rinduku tak jua terbaca.
Malam terlihat jumawa.
Tertawakan aku yang dipenjara rasa.
Rindu menguasa dalam relung jiwa.
Nelangsa bersenandung hingga gema.
Rinduku terluka.

23.3.11

anak-anak

Kangen rasanya jadi anak-anak lagi. Makhluk kecil yang tidak kenal rasa takut. Karena tidak tahu dan tidak berharap yang muluk-muluk. Sampai suatu hari anak kecil itu dihadapkan dengan sesuatu yang dia rasakan jauh lebih besar dari dirinya. Maka dia akan berlari mencari seseorang, mencari terang, mencari apapun yang bisa dia temukan sehingga dia tidak lagi hanya seorang.

21.3.11

Selalu, Aku Rasa…


Selalu, aku rasa,

kita akan bercakap dalam senyap

Dengan bahasa langit yang hanya kita yang tahu

serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap

lalu meresapinya ke hati dengan getir

Selalu, aku rasa,

kamu tersenyum di sana, ketika aku pun tersenyum di sini

dan kita, dengan bahasa langit yang kita punya itu,

secara bersahaja, menyapa larik-larik kenangan

dan meniti setiap selasar waktu

bersama desir rindu menoreh kalbu

Selalu, aku rasa,

kita tak dapat menafikan

batas yang membentang

dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata

serta membuat kita sadar

bahwa pada akhirnya,

dalam pilu kita berkata:

Biarlah, kita menyesap setiap serpihan senyap

dan menikmatinya, tak henti,

hingga lelap

tanpa tatap, tanpa ratap

19.3.11

menggenang

Ada air mata, menggenang di saku kemejamu
Setelah perjalanan panjang berliku
Yang tak pernah kau sesali
Walau sekali
Pernah kumengerjap manja,
lalu bertanya, “Apakah itu air mata, Ayah?”
Kau tersenyum, dan menjawab,
“Bukan, Sayang. Ini hanya sisa hujan,
yang Tuhan titipkan, semalaman.”
Lama baru kusadari,
kau hanya coba bentangkan pelangi
Di rumah kami
Tahukah engkau, Matahari, bahwa aku mencintaimu?

17.3.11

pikun


Pernahkah kamu kepingin pikun. Hanya ingin melupakan saja. Seakan-akan kamu ingin menghilangkan sesuatu dengan sengaja, segera. Seperti ingin menghapus kenangan baik itu pahit maupun manis.

15.3.11

Kebahagiaan atau…?

Ini kebahagiaan. Berulang kali aku meyakinkan hatiku bahwa ini adalah sebuah kebahagiaan yang harusnya aku sikapi dengan tersenyum.
Tapi..., kenapa aku menangis? Meneteskan air mata atas kenyataan yang aku terima ini.
Adakah yang salah dengan diriku, dengan perasaanku?
Ternyata, aku masih ingin kamu. Masih. Dan kenyataan ini membuatku harus kehilangan kamu. Harus melepasmu. Harus menutup semua khayal indah bersamamu selamanya. Karena aku tidak mungkin lagi bisa...