"Maafkan aku. Aku sudah tidak tahan dengan semua penderitaan ini."
Aku masih mengatur napas yang masih tersengal. Kurapihkan rambutku sambil menyusut sisa air mata yang sedari tadi jatuh dari wajahku yang lebam. Kepalaku masih berdenyut, pening, akibat lemparan vas bunga dua hari yang lalu. Hari ini, dia, suamiku, memukulku lagi.
Entah apa yang kurang dari aku sebagai istri. Padanya, aku tidak pernah menuntut lebih. Pun saat dia menikah diam-diam dengan janda beranak satu dari kampung sebelah.
Kupandangi tubuhnya tergeletak di lantai seberang meja. Kaku, tak bergerak setelah meminum kopi yang biasa kusiapkan untuknya. Kali ini racun tikus sebagai pemanisnya.
14.1.13
13.1.13
Hari Ke-12: Mengunyah Sepi
Telanjang bulat memeluk kelam sepi di bulan Januari
Masih rusak, masih tertatih untuk bisa melangkah tanpa menoleh ke cerita lalu
Masih sakit tepatnya
Apa aku bisa menjadi sayapmu?
Dengan segala patahan yang masih berserakan, apa kamu berani menyapa kesepianku?
Apa menurutmu tidak membuang-buang waktu?
Membunuh waktu katamu? Mengunyah sepi kataku
Tidak, jangan dibunuh, biarkan dia hidup dan cepat mengantarmu ke pelukku
Tenang, Sayang... Jangan khawatirkan penantianku
Bertemanlah dengan waktumu di sana, selagi aku merakit rindu yang terlahir dari tiap centi jarak yang membatasi sapa kita
Masih rusak, masih tertatih untuk bisa melangkah tanpa menoleh ke cerita lalu
Masih sakit tepatnya
Apa aku bisa menjadi sayapmu?
Dengan segala patahan yang masih berserakan, apa kamu berani menyapa kesepianku?
Apa menurutmu tidak membuang-buang waktu?
Tidak, jangan dibunuh, biarkan dia hidup dan cepat mengantarmu ke pelukku
Tenang, Sayang... Jangan khawatirkan penantianku
Bertemanlah dengan waktumu di sana, selagi aku merakit rindu yang terlahir dari tiap centi jarak yang membatasi sapa kita
11.1.13
Hari Ke-11: Kalau Kau Tak Di Sini
kalau kau tak di sini
aku akan ke situ
kalau kau tak di situ
aku akan ke sana
kalau kau tak di sana
aku akan ke mana kau
aku akan ke ada kau
aku akan ke situ kau
aku akan ke sana kau
aku akan ke mana kau ada
sampai ke
Temu
sampai aku kau ke
Ada
sampai akukau!
aku akan ke situ
kalau kau tak di situ
aku akan ke sana
kalau kau tak di sana
aku akan ke mana kau
aku akan ke ada kau
aku akan ke situ kau
aku akan ke sana kau
aku akan ke mana kau ada
sampai ke
Temu
sampai aku kau ke
Ada
sampai akukau!
10.1.13
Hari Ke-10: Fatamorgana
kamu adalah ada yang paling tiada. nyata yang paling semu.
kamu ada, dalam bahasa yang kubaca, dalam suara yang kusapa, dan dalam spasi yang menjeda lama.
kamu ada, menyamar pada setiap larik yang tercetak, dalam setiap senyum yang terkhayal, dan dalam kosong ruang yang beku.
kamu tiada, dalam bau tubuh yang kucium, dalam pelukan yang hangat melekat, dan dalam genggam jemari yang terengkuh.
kamu tiada, dalam senja yang menjelma hitam, dalam hitam yang menjemput pagi, dan dalam pagi yang melarung mimpi.
8.1.13
Hari Ke-8: Cinta
Aku sudah lupa sejak kapan aku tak lagi percaya pada kekuatan cinta, terlebih cinta pada pandangan pertama. Dan aku tak perduli. Sama tak perdulinya pada gelar yang kusandang sekarang. Gadis Berhati Es, Setegar Gunung Batu... Frigid. Sampai saat makhluk tampan itu melintas di hadapan dan membuat hari-hariku kembali penuh warna.
Dan di sinilah aku, di samping laki-laki yang mencuri mimpi-mimpiku.
"Salahkah jika aku mencintaimu?" tanyaku lirih.
"Tidak..."
Kami duduk di bangku panjang di taman. Aku sendiri tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaanku padanya lewat ekspresi wajah dan sorot mataku. Dia mengulas senyum, seakan-akan mengatakan bahwa dia mengerti.
"Dan kamu?"
"Aku..., aku tak bisa....".
"Kenapa?' tanyaku setengah tak percaya. "Apa aku terlalu agresif?"
Masih hening.
"Bukan."
"Atau...."
"I'm... gay," potongnya.
Aku buru-buru mengambil minumku karena hampir tersedak. Aku kembali meneguk minumku banyak-banyak, meredakan jantungku yang berdegup cepat.
Senyum miris tersungging di bibirnya.
Seketika hatiku beku seperti hariku yang kembali kelabu...
Dan di sinilah aku, di samping laki-laki yang mencuri mimpi-mimpiku.
"Salahkah jika aku mencintaimu?" tanyaku lirih.
"Tidak..."
Kami duduk di bangku panjang di taman. Aku sendiri tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaanku padanya lewat ekspresi wajah dan sorot mataku. Dia mengulas senyum, seakan-akan mengatakan bahwa dia mengerti.
"Dan kamu?"
"Aku..., aku tak bisa....".
"Kenapa?' tanyaku setengah tak percaya. "Apa aku terlalu agresif?"
Masih hening.
"Bukan."
"Atau...."
"I'm... gay," potongnya.
Aku buru-buru mengambil minumku karena hampir tersedak. Aku kembali meneguk minumku banyak-banyak, meredakan jantungku yang berdegup cepat.
Senyum miris tersungging di bibirnya.
Seketika hatiku beku seperti hariku yang kembali kelabu...
7.1.13
Hari Ke-6: Sutup Asa
Keputus-asaan. Semuanya saling terhubung. Kita berada dalam satu lingkaran rangkaian. Sederhananya tirani rantai makanan. Ekosistem yang tidak hanya merusak alam tapi orang-orang yang telah merusaknya.
Mungkin kita tidak bisa melihatnya. Seperti kemampuan manusia untuk kembali religius seperti pada awal-awal lahirnya agama. Kalau semua urusan hanya urusan trend. Kalau semua hanya urusan hal-hal baru untuk mengganti yang lama.
Atau kita hanya berpura-pura. Berpura-pura buta. Ini yang paling mudah. Berpura-pura tidak melihat. Dibuka mata lebar-lebar untuk mengaburkan kebenaran. Kebenaran yang sebenarnya benar-benar kita pahami sebagai yang benar. “Memang bukan jualan yang laku dijual, kebenaran itu.”
Orang akan lebih mudah mencibirnya sebagai euforia. Fantasi dari hal-hal yang dikategorikan suci. Tapi hebatnya lekang ratusan tahun dihitung dari masa pembuatannya sampai saat ini. Kehebatan di masa-masa ketika logika belum menguasai pola pikir manusia. Ketika ilmu pengetahuan masih dikaburkan dengan mistisme. Ketika Tuhan diceritakan memberi bencana-bencana alam. Dimana saat ini, bencana alam dibaca akibat dari gejolak alam itu sendiri. Riset dan penelitian menjadi berhala baru. Seperti halnya usaha manusia untuk mengkultus usaha baru tidak pernah putus.
Inovasi-inovasi, penemuan-penemuan baru dalam bidang apa pun selalu berdampak, entah apakah orang-orang semakin jalan maju tapi melihat ke belakang. Atau justru berjalan mundur tapi kepalanya menghadap ke depan.
Tapi yang sutup asa semua terselimuti kabut. Buram dan tidak bertujuan.
Mungkin kita tidak bisa melihatnya. Seperti kemampuan manusia untuk kembali religius seperti pada awal-awal lahirnya agama. Kalau semua urusan hanya urusan trend. Kalau semua hanya urusan hal-hal baru untuk mengganti yang lama.
Atau kita hanya berpura-pura. Berpura-pura buta. Ini yang paling mudah. Berpura-pura tidak melihat. Dibuka mata lebar-lebar untuk mengaburkan kebenaran. Kebenaran yang sebenarnya benar-benar kita pahami sebagai yang benar. “Memang bukan jualan yang laku dijual, kebenaran itu.”
Orang akan lebih mudah mencibirnya sebagai euforia. Fantasi dari hal-hal yang dikategorikan suci. Tapi hebatnya lekang ratusan tahun dihitung dari masa pembuatannya sampai saat ini. Kehebatan di masa-masa ketika logika belum menguasai pola pikir manusia. Ketika ilmu pengetahuan masih dikaburkan dengan mistisme. Ketika Tuhan diceritakan memberi bencana-bencana alam. Dimana saat ini, bencana alam dibaca akibat dari gejolak alam itu sendiri. Riset dan penelitian menjadi berhala baru. Seperti halnya usaha manusia untuk mengkultus usaha baru tidak pernah putus.
Inovasi-inovasi, penemuan-penemuan baru dalam bidang apa pun selalu berdampak, entah apakah orang-orang semakin jalan maju tapi melihat ke belakang. Atau justru berjalan mundur tapi kepalanya menghadap ke depan.
Tapi yang sutup asa semua terselimuti kabut. Buram dan tidak bertujuan.
Langganan:
Postingan (Atom)
