Aku merasa ada yang hilang tanpa tahu apa yang sudah aku temukan. Aku merasa menemukan tanpa tahu apa yang aku cari. Dan aku seperti masih mencari tanpa tahu apa yang sudah hilang.
Aku mulai mencari sumber dari partikel partikel yang ditiupkan angin sore itu kepadaku. Ku langkahkan kaki mengikuti jejak yang membangkitkan sejuta kenangan menyakitkan. Lalu kalian pasti heran mengapa aku justru mencari sang ‘kenangan’ itu bukan?
Dia hanya sejauh harapan dan kepastian, harapanku untuk mendapat kepastiannya. Aku mulai bertanya, "Kita ini pasangan atau cuma berteman?" Bisik hatiku.
Tunggu dulu…
Ku pacu terus kakiku sambil berkonsentrasi agar tidak kehilangan jejak elemen-elemen itu, aku yakin, sangat yakin, si pemilik bau ini adalah sang ‘kenangan’ yang seharusnya tak kutemui sejak kami bertemu tiba-tiba pada sore hari di bulan Januari lalu.
Kala itu, cukuplah udara yang sama yang menjadi media kami bersama. Dalam satu hembusan nafas yang sama. Kami saling terhubung di sana.
Kini, partikel-partikel itu menyelesaikan tugasnya dengan sempurna, membawaku hingga berdiri berhadapan langsung dengan sang ‘kenangan’.
"Hey," sapaku, lalu aku mengucapkan apa yang sedari dulu ingin ku utarakan, "Selamat tinggal" yang seharusnya ku ucapkan untuknya Januari lalu.
Dan akupun bergegas pergi bersamaan dengan munculnya pelangi dari sudut cakrawala setelah hujan di bulan Desember sore ini berlalu.
Ketika yang dinanti hanya berdiam diri di kejauhan, saat itulah yang terbaik untuk mengikhlaskan kedekatan yang dulu pernah ada.
6.12.13
3.12.13
Tidak Mendoakanmu
Mungkin hari terlalu dini untuk merindukanmu. Bahkan mataku belum sedikit pun terpejam. Sengaja ataupun tak disengaja, kamu ada di dalam kepala.
Jika kamu bertanya, kenapa aku tidak sedikit pun berucap pamit. Karena aku yakin, ada masa yang akan menjawab perjumpaan berikutnya.
Aku tidak ingin menutupi lukaku dengan mendoakanmu, karena akan jauh lebih sakit jika doaku terkabulkan. Wajahku mungkin sanggup berpaling ketika melihatmu, namun hati kecilku yang tak pernah sanggup.
Jika kamu bertanya, kenapa aku tidak sedikit pun berucap pamit. Karena aku yakin, ada masa yang akan menjawab perjumpaan berikutnya.
Aku tidak ingin menutupi lukaku dengan mendoakanmu, karena akan jauh lebih sakit jika doaku terkabulkan. Wajahku mungkin sanggup berpaling ketika melihatmu, namun hati kecilku yang tak pernah sanggup.
1.12.13
Rumah Hati
Tidak ada yang harus berubah. Aku sayang kamu. Dan biarlah tetap seperti itu.
Dalam kesunyian begini mutlak. Antara kita yang saling diam.
Entah karena segan atau sudah terlalu banyak yang kita ceritakan. Sesungguhnya Dia telah menciptakan sesuatu bukan tanpa tujuan.
Begitupun serangkaian pertemuan. Ada yang mengharapkan seseorang datang, kemudian seseorang itu mengharapkan seseorang yang lain.
Ada yang ingin sekali datang, namun hujan mengguyur habis semua kemungkinan.
Karena bagiku seorang engkau ialah rumah bagi hati kecilku.
Di balik mata, di luar kepala dan di dalam detak jantung, tak jarang aku merasakan rindu akan engkau.
Ada senyuman rindu terangkai dalam garis konstelasi. Di antara gugus bintang membujur semesta, engkaulah yang paling sempurna.
Dalam kesunyian begini mutlak. Antara kita yang saling diam.
Entah karena segan atau sudah terlalu banyak yang kita ceritakan. Sesungguhnya Dia telah menciptakan sesuatu bukan tanpa tujuan.
Begitupun serangkaian pertemuan. Ada yang mengharapkan seseorang datang, kemudian seseorang itu mengharapkan seseorang yang lain.
Ada yang ingin sekali datang, namun hujan mengguyur habis semua kemungkinan.
Karena bagiku seorang engkau ialah rumah bagi hati kecilku.
Di balik mata, di luar kepala dan di dalam detak jantung, tak jarang aku merasakan rindu akan engkau.
Ada senyuman rindu terangkai dalam garis konstelasi. Di antara gugus bintang membujur semesta, engkaulah yang paling sempurna.
29.11.13
Aku Mencintaimu Karena...
Membaca pesan-pesan darimu yang menghantarkan malam yang indah.
Terima kasih wahai lelaki yang membuat senyumku merekah.
Karena tak ada yang tahu yang kita rasa di dalam hati ini.
Karena mencintaimu itu bukan urusan mereka.
Dan merindukanmu bukan penderitaan mereka.
Banyak tanya yang tak terjawab, karena hati yang menyimpan segala rahasia.
Berbagai alasan tetap tak mampu menjawab kenapa.
Karena cinta memporak-porandakan logika, dan hati adalah tuan.
Aku mencintaimu karena..., entah.
Pertanyaan itu pun masih terjawab dengan senyuman. Tak sedikitpun bisa menjelaskan.
Kamu adalah langit yang teramat luas untuk aku lukiskan.
Kamu adalah laut yang teramat sangat dalam untuk aku selami.
Tak pernah habis.
Semua yang kurasa padamu tak pernah habis.
Sejauh mana kita bisa bertahan dan saling mempertahankan. Bukan untuk saat ini saja tapi nanti dan selamanya.
Jika tak ada harapan dan impian, apa yang dicapai?
Terima kasih wahai lelaki yang membuat senyumku merekah.
Karena tak ada yang tahu yang kita rasa di dalam hati ini.
Karena mencintaimu itu bukan urusan mereka.
Dan merindukanmu bukan penderitaan mereka.
Banyak tanya yang tak terjawab, karena hati yang menyimpan segala rahasia.
Berbagai alasan tetap tak mampu menjawab kenapa.
Karena cinta memporak-porandakan logika, dan hati adalah tuan.
Aku mencintaimu karena..., entah.
Pertanyaan itu pun masih terjawab dengan senyuman. Tak sedikitpun bisa menjelaskan.
Kamu adalah langit yang teramat luas untuk aku lukiskan.
Kamu adalah laut yang teramat sangat dalam untuk aku selami.
Tak pernah habis.
Semua yang kurasa padamu tak pernah habis.
Sejauh mana kita bisa bertahan dan saling mempertahankan. Bukan untuk saat ini saja tapi nanti dan selamanya.
Jika tak ada harapan dan impian, apa yang dicapai?
26.11.13
Lepaskan
Ada rindu yang sendu mengiringi hujan-hujan yang turun di November. Sisa gerimis, tanah basah dengan aroma lembab menebar. Aku menengadah pada langit, rasakan kau hadir dalam rongga dada. Ada sebuah nama yang kurapal berkali-kali bagai mantra. Adalah kamu yang mengusik pikiranku malam ini; yang pernah berikan senyum termanis, lalu membuat hatiku teriris oleh sepisau rindu. Kamu, pencetus utama reaksi kimia dalam semesta yang menghadirkan kata cinta. Apapun yang ingin kutulis saat ini, tiada yang lain melainkan kamu.
Aku lumpuh seketika kala kau tiada. Kamu hadir, mencipta cinta, lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Aku tak pernah mengundangmu datang, Tuan. Aku tak pernah mereka-reka rasa, bertingkah pura-pura, agar kau jatuh cinta padaku. Dan aku tak pernah sedikit pun berharap untuk jatuh dalam cintamu.
Aku benar-benar mencintaimu, Tuan. Aku simpan keping demi keping rindu ini hanya untukmu. Kujaga engkau, dengan sebaik-baiknya. Dari seburuk-buruknya, aku. Dengan cara apa aku harus membuktikannya padamu? Sekali waktu, aku mencoba membunuh perasaan ini sebelum dia tumbuh semakin besar dan hebat. Tapi aku tak kuasa setiap kamu menyapaku kembali. Sekarang sudah sangat terlambat, tak ada lagi yang bisa dihentikan dari cintaku, bahkan dengan diammu.
Aku sadar, suatu hari aku akan kehilangan kamu, cepat atau lambat. Tapi aku tak pernah siap menghadapinya. Rasanya tetap begitu menyakitkan, Tuan. Ya, akhirnya terjadi juga, datang memberi salam dan harapan, lalu pergi diam-diam. Kepergian tetap kepergian. Tabahlah! Aku menggapai-gapai bintang di langit tinggi, tanpa pernah menyadari; matahari kebahagiaan kian tenggelam di dasar hatiku.
Lalu aku belajar arti memiliki, dari dedaunan, tak sekalipun dijeratnya embun itu: sebab ia percaya, akan ada masa untuk merelakan. Kelak, kita akan bertemu kembali. Sebagai orang asing yang melihat bulan, di langit yang dulu kita gambar bersama-sama. Akhirnya, dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih, aku memohon untuk dijauhkan dari cinta yang pilih kasih.
Aku lumpuh seketika kala kau tiada. Kamu hadir, mencipta cinta, lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Aku tak pernah mengundangmu datang, Tuan. Aku tak pernah mereka-reka rasa, bertingkah pura-pura, agar kau jatuh cinta padaku. Dan aku tak pernah sedikit pun berharap untuk jatuh dalam cintamu.
Aku benar-benar mencintaimu, Tuan. Aku simpan keping demi keping rindu ini hanya untukmu. Kujaga engkau, dengan sebaik-baiknya. Dari seburuk-buruknya, aku. Dengan cara apa aku harus membuktikannya padamu? Sekali waktu, aku mencoba membunuh perasaan ini sebelum dia tumbuh semakin besar dan hebat. Tapi aku tak kuasa setiap kamu menyapaku kembali. Sekarang sudah sangat terlambat, tak ada lagi yang bisa dihentikan dari cintaku, bahkan dengan diammu.
Aku sadar, suatu hari aku akan kehilangan kamu, cepat atau lambat. Tapi aku tak pernah siap menghadapinya. Rasanya tetap begitu menyakitkan, Tuan. Ya, akhirnya terjadi juga, datang memberi salam dan harapan, lalu pergi diam-diam. Kepergian tetap kepergian. Tabahlah! Aku menggapai-gapai bintang di langit tinggi, tanpa pernah menyadari; matahari kebahagiaan kian tenggelam di dasar hatiku.
Lalu aku belajar arti memiliki, dari dedaunan, tak sekalipun dijeratnya embun itu: sebab ia percaya, akan ada masa untuk merelakan. Kelak, kita akan bertemu kembali. Sebagai orang asing yang melihat bulan, di langit yang dulu kita gambar bersama-sama. Akhirnya, dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih, aku memohon untuk dijauhkan dari cinta yang pilih kasih.
17.11.13
Yogyakarta
November tiba lebih cepat dari inginku
Ruang nostalgia terisi penuh, membuncah
Kolaborasi tercipta di jalanan temaram lampu pijar
Tampak syahdu dengan warna kuning di bawah rinai hujan
Malam itu Yogya tampak begitu indah
Menghembuskan aroma tanah basah bercampur desiran angin dingin
Menarikku lembut untuk kemudian sejenak menepi
Membayangkanmu
Ya…
Kunikmati wajahmu di bawah temaram lampu berkapasitas lima watt
Remang-remang memang
Namun kutemui senyummu dalam bayang-bayang malam itu
Hangat memelukku dari belakang
Ada bahagia yang menjalari senti demi senti tubuhku
Seharusnya kamu
Bukan bayanganmu
Aku merindukanmu dengan terlalu
Langganan:
Postingan (Atom)
