18.5.14

Lari

Bila hidup adalah sebuah lomba lari, aku tidak yakin aku adalah pemenangnya.

Kebanyakan manusia ingin cepat sampai, tanpa ingin menikmati pemandangan sekelilingnya. Melihat seorang pemenang hanya dari sisi kemenangannya saja, tanpa mempelajari prosesnya.

Padahal, bisa jadi yang kita cari terselip diantara pemandangan indah, bukan pada akhir dari perjalanan.

Hidup itu lari estafet. Pada fase-fase tertentu. Estafet adalah prosesnya. Bukan seberapa cepat, tapi bagaimana cara kita mencapai titik berikutnya.

Life is a journey, and we have our own journey.
Take a walk, and you’ll understand the answer.

17.5.14

Hatiku Dingin

Selama ini pasti kau tak tau kan kalau aku pandai. Aku pandai, menyimpan hatiku dalam kulkas. Aku simpan hatiku di kulkas, kelak biar tak busuk. Karna lebih baik hatiku beku dari pada hatiku busuk.

Dan kamu selalu berhasil membuat aku memiliki alasan untuk mengeluarkan hatiku ini kemudian menaruhnya di kulkas dekat dapur.

Aku takut hatiku menjadi busuk apabila aku tak mendinginkannya. Bila sudah waktunya nanti aku percaya pasti ada seseorang yang akan datang dan membuat aku bisa mengeluarkan hati itu dari kulkas dan memanaskannya di atas tungku. Dan yah semoga, hati itu akan menjadi hangat kembali.

Lalu terkadang aku lupa kalau hati itu sedang berada di dalam kulkas. Aku berjalan-jalan entah kemana menyisuri kegamangan dengan dadaku yang bolong. Dan semua orang mulai berbisik-bisik di belakangku bahwa aku adalah manusia yang tidak punya hati.

Siang ini aku menggenggam termometer menuju kulkas. Aku keluarkan hatiku yang telah lama beku di dalamnya. Aku ukur suhunya.

Di luar panas. Ini, hatiku yang dingin, minumlah. Hatiku beku, pecah menjadi bulir-bulir es yang bisa kau taruh di gelas yang penuh air mata itu.

Bila air matamu dingin, mungkin ada aku disana.

16.5.14

Terkabul

Malam itu selarik cahaya melintas di langit. Bintang jatuhku yang pertama setelah sekian jauh langkah kakiku menapak usia. Mereka bilang, ucapkan harapanmu pada bintang jatuh. Biarkan dia membawanya ke langit dan meletakkannya di pangkuan Tuhan.

Malam itu aku memejamkan mata dan mengucap harap, agar satu hari aku menemukan rumahku dan bisa melepas penatku di sana.

Kemudian aku menoleh. Ada kamu di sisiku. Dan secepat itulah harapanku terkabul.

15.5.14

Senja Sore Itu

Kutatap wajah sendunya. Kali ini, hampir tanpa keinginan untuk mengucapkan apapun. Kularutkan heningku di dalam peluknya. Sebuah gradasi perasaan yang mungkin baru kali itu kurasakan. Aku tersadar. Tapi di dalam diam, aku masih tetap berusaha untuk memecah kebekuan di antara kami.
Kembali kutatap dia. Kali ini tepat di kedua bola matanya. Aku ingin sekali melihat ke dalam hati dan pikirannya. Menusuk dalam ke tatap matanya, aku berharap bisa mengetahui apa yang sedang mengganggu pikirannya dan apa yang seharusnya kulakukan. Tapi, kenyataan saat itu berkata lain. Sudah terlalu lelah aku berusaha untuk memahami. Cukupkah hanya dengan merasakan?
Kali ini, kuraih tangannya. Dingin. Atau mungkin itu memang reaksinya terhadapku. Dengan tetap berkeras aku menggamit telapak tangannya, mencoba memberikan sisa kehangatan yang kumiliki. Namun ternyata, dia membutuhkan lebih dari sekedar sisa. Dia membutuhkan sesuatu yang utuh.
Aku berdiri perlahan di hadapannya, berharap bahwa kali ini aku akan bisa menarik perhatiannya. Ya. Dia mulai menolehkan kepalanya ke arahku. Lalu berkata “Menyingkirlah, kau menghalangi sinar sang senja menyapaku.” Kemudian aku membalikkan badanku.
Satu per satu, aku mulai menyusun langkah untuk menjauh. Meninggalkan hanya bayanganku menimpa sebagian sisi wajahnya. Aku tahu, saat itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat tatapan dingin di matanya. Haruskah aku bersyukur karena aku tak perlu lagi gundah karena tatapan itu? Haruskah kumenderita karena menyadari bahwa aku tidak akan pernah lagi melihat tatapan itu?
Perlahan, aku mulai menjauh. Semakin jauh dari kenyataan yang seharusnya kuhadapi. Aku berusaha melangkah tegak. Dengan memaksakan sisa ketegaran dan keberanian yang kumiliki, akupun mulai menghilang.
Senja sore itu, senja pertama untuk selamanya.

14.5.14

Dunia, (dengan koma)

Tentang engkau yang ada di sana.Tentang engkau yang mengeluhkan ketiadaan tanda baca…

Kau seharusnya lebih bisa merasa. Bukan koma yang harusnya kau minta.

Karena koma sebenarnya telah ada. Diciptakan oleh-Nya tanpa sia-sia, untuk menuntunmu masuk ke dalam dunia itu lebih dalam tanpa cedera.

Bukankah koma itu selalu engkau temukan lima kali dalam sehari. Ketika engkau buang seluruh harga diri dan menempelkan dahi di titik terendah manusiawi.

Sangsi apa lagi yang kau miliki? Siapa lagi yang lebih kokoh sebagai sandaran hati? Siapa lagi yang mempunyai jaring pengaman lebih baik saat tubuh dan mentalmu dihempaskan kesana kemari?

Kau tak perlu transformasi berlebih. Hanya hati dan pikiran yang lebih mengerti. Lebih memahami, bahwa selalu ada tempat untukmu kembali.

Tempatmu kembali menegakkan komamu. Beristirahat sejenak dari duniamu. Mencurahkan isi hati dan kekesalanmu….

Akan dunia yang kau anggap tanpa koma. Tanpa tanda baca….

13.5.14

Pukul Dua Dini Hari

Radit
Aku menyesal. Pertengkaran tadi tak seharusnya terjadi. Aku telah melukai hati perempuan yang sangat aku cintai. Aku membuatnya menangis.
“Kamu akan lebih berbahagia dengan orang lain, Sayang. Bukan aku. Aku hanya bisa membuat kamu menangis. Aku gak bisa ngasih kamu harapan apa-apa.”
“Tahu apa kamu tentang bahagia? Bahagia itu, aku mencintaimu, dan aku selalu tahu bahwa kamu membalas dengan sama besarnya sepertiku. Dan kita tidak perlu berdebat tentang cinta siapa yang lebih besar. Bahagia itu, kita.”
“Sudahlah Sayang. Tidak ada lagi yang harus dilanjutkan, semuanya sudah cukup!” Berbanding terbalik dengan Dara, aku berbicara halus dan pelan. Bisa kurasakan sakitnya dia mendengar perkataanku.
Ah, Dara. Maafkan aku. Aku tahu, dia adalah orang yang sangat mencintaku. Aku selalu berharap dia menjadi pendamping hidupku. Kalau ada yang bertemu dengan dia, dia akan selalu bilang kalau dia beruntung mendapatkanku. Aku bilang, aku yang beruntung. Aku tahu itu. Tapi....
Malam ini, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Aku sudah mencoba melihat televisi, membaca buku, atau mendengarkan lagu riang. Sama saja. Aku gagal. Aku tidak juga bisa melelapkan mata. Kepalaku terlalu berat. Mengingat dia, rasa bersalahku menjadi-jadi , membuatku sulit terlelap. Aku tak pernah ingin kehilangan dia.
Aku tak sabar menunggu hari esok. Kulirik jam di dinding kamar. Pukul dua dini hari. Aku harus menelponnya sekarang juga. Aku yakin dia pun belum tertidur memikirkan semua ini. Aku tak mau membuat air matanya jatuh terlalu lama.
Praaang!!!
Gelas di meja jatuh tersenggol tanganku ketika aku hendak mengambil handphone. Dan bersamaan dengan itu handphoneku berbunyi. Ada panggilan masuk.
“Halo.”
Selamat malam, Dit,” sapa seorang perempuan di seberang.
“Erma? Ada apa malam-malam gini menelponku?”
Radit....” Suaranya terdengar di seberang, terisak.
“Iya, kamu kenapa?”
Emm..., Dara Dit....
Deg! Jantungku berdebar lebih kencang.
“Ada apa dengan Dara? Dara gak kenapa-kenapa kan?” tanyaku tak sabar.
Dia kecelakaan. Tadi dia maksa mau pergi menemui kamu di Jakarta sendirian. Aku sudah melarangnya. Tapi kamu tau sendiri kan kalo dia keras kepala.
Tubuhku lemas bagai tak bertulang. Bumi yang kupijak seakan berputar.
“Sekarang gimana keadaannya?”
Dia masih di ruang operasi. Kondisinya kritis.